Minggu, 17 Juni 2012

Dibalik konsep komunisme karl marx, Nazisme, dan Zionis

1. Komunisme Konsep Karl Marx
Free Masonry tertinggi dan pemilik modal Internasional yang menjadi kaki
tangannya menggunakan beberapa gerakan kekacauan dan kekerasan dalam
upaya menghancurkan sistem sosial. Jaringan gerakan ini tersebar luas di
berbagai negara Eropa, terutama di Rusia dan Eropa Tengah. Perkumpulan
pertama kali terungkap tahun 1829, dengan program baru yang telah
dipersiapkan oleh para tokoh Yahudi, setelah disusun kembali oleh Weiz
Howight, yaitu ketika seorang anggota perkumpulan berkebangsaan Inggris,
Mr. Ryote pada tahun itu diutus ke New York untuk mengadakan konferensi
Free Masonry. Mr. Ryote mengungkapkan susunan baru organisasi Free
Masonry, dengan meleburkan semua perkumpulan lainnya, termasuk
perkumpulan faham Atheisme yang ada di Eropa ke dalam satu wadah yang
disebut Perkumpulan Bangsa-Bangsa, yang cabang-cabangnya didirikan di
seluruh penjuru dunia dengan menamakan diri sebagai Organisasi Komunis
Internasional. Dalam organisasi ini diajarkan Ideologi berdasarkan filsafat
tertentu yang dijadikan sebagai landasannya.
Konferensi tersebut dibebani mengumpulkan dana untuk kepentingan proyek
tersebut. Lalu dibentuk komisi khusus, terdiri dari 3 orang penting, yang satu
di antaranya adalah Clifton Roosevelt seorang kakek presiden AS yang kelak
menjadi Presiden Amerika ke 32, yang terkenal buas dalam perang dunia II itu.
Sementara itu, tokoh-tokoh Yahudi memilih seorang Yahudi Jerman Karl Marx
dan Engels untuk meletakkan konsep yang dibutuhkan untuk menguasai
dunia. Kedua orang ini dipanggil ke London, dan berdiam di daerah yang
terkenal sebagai sarang maksiat Soho. Mereka berdua menulis buku yang
dikenal dengan Das Kapital, yang nantinya dianggap sebagai kitab sucinya
orang komunis. Di samping itu, mereka berdua juga menulis Deklarasi
Komunis yang disebut Manifesto. Tokoh-tokoh Yahudi Internasional telah
banyak mengeluarkan uang untuk penerbitan dan distribusi buku tersebut ke
seluruh penjuru dunia.
Untuk menyebarluaskan Komunisme, perkumpulan Yahudi menggunakan
gerakan kekacauan yang dikembangkan oleh tangan-tangan kotor mereka ke
segenap penjuru dunia. Di samping itu, ada lagi dua perkumpulan lain, yang
tampak dari luar seolah-olah saling bermusuhan, namun keduanya adalah
setan-setan yang berlainan wajah dengan satu tujuan, yaitu menempatkan
dunia di bawah kekuasaan Yahudi. Kedua perkumpulan itu adalah Nazisme
dan Zionisme.
2. Nazisme
Pada saat Karl Marx dan Engels menyelesaikan buku Das Kapital dan
Manifesto Komunis di bawah pengawasan dan dana langsung dari pihak
Yahudi di London dan Frankfurt , para tokoh Yahudi juga menyiapkan gerakan
yang sama dengan nama yang berbeda, seolah bertujuan menentang
Komunisme. Para tokoh Yahudi menemukan Karl Reiter, seorang profesor di
Universitas Frankfurt, di samping anggota Masonry, juga meletakkan dasardasar
teori yang menentang Komunisme yang ditulis oleh Karl Marx. Reiter
menulis dasar-dasar filsafat ekonomi lengkap yang menentang teori tersebut
berdasarkan pada satu landasan, yaitu Materialisme Atheis, di samping teori
Reiter mempunyai landasan Supremasi ras Jerman. Para tokoh Yahudi
membungkam rahasia faham Atheisme, di balik dua faham yang muncul
dalam satu waktu. Akan tetapi, rahasia tersebut segera dimaklumi, setelah kita
mengetahui tujuan jangka panjang, yang ingin mereka capai yaitu mencabikcabik
bangsa-bangsa di dunia satu per satu dengan senjata faham yang
mematikan seperti itu, di bawah pengawasan persekongkolan Internasional,
sehingga dunia terbelah menjadi blok militer yang saling membantai dengan
senjata yang dibuat oleh mereka masing-masing. Atas prakarsa Yahudi,
kehancuran politik, ekonomi dan sosial telah menunggu bagi masing-masing
pihak. Sudah bisa dipastikan, bahwa pihak yang paling banyak mengeruk
keuntungan adalah pihak konspirasi Internasional. Dengan demikian, mereka
akan bisa mendirikan kerajaan Yahudi di atas kehancuran, akibat malapetaka
peperangan yang terjadi.
Teori dan pemikiran Karl Reiter kelak dijadikan dasar pemikiran filosof besar
Jerman Frederick Nietzsche. Ia meletakkan pemikiran filsafat dan teorinya, dan
memainkan peran penting dalam perkembangan pemikiran historis. Nietzsche
juga melontarkan konsep tentang manusia super (Superman) atau Übermensch
dan keunggulan ras Jerman atau ras Arya. Pemikiran Nietzsche inilah yang
pada hakikatnya akan melahirkan konsep Fasisme kemudian Nazisme. Teori
ini telah menyebabkan gemuruhnya persenjataan Jerman dan sekutunya di
Barat atas nama Superioritas ras sebanyak dua kali di awal abad ini, di samping
peristiwa perang dunia I tahun 1914 dan perang dunia II tahun 1949.
Demikianlah makin nampak jelas bayang-bayang tak dikenal di balik peristiwa
besar itu, di samping kita juga merasakan kehancuran fatal dari program
kekuatan rahasia setan pada abad yang silam.
3. Zionisme
Adam Weiz Howight meninggal dunia tahun 1830, setelah sekian lama hidup
'mengabdi pada persekongkolan internasional dengan gagasan setannya.
Program kerja yang dituangkan telah dijadikan pegangan tokoh-tokoh Yahudi
dalam upaya menguasai dunia. Pada akhir hayatnya, Howight telah
menyatakan tobat dari Atheisme kembali kepada agama Kristen. Tahun 1834, 4
tahun setelah Howight wafat, persekongkolan Internasional menemukan
penggantinya, yaitu tokoh pembesar Italia bernama Mazzini, untuk menjadi
pengawas pelaksanaan program Yahudi, yaitu meniupkan api kerusuhan di
berbagai penjuru dunia. Mazzini memainkan peranan setan ini sebagai biang
kerok persekongkolan Internasional sampai tahun 1872. Ironisnya, buku-buku
sejarah yang menjadi pegangan pelajaran di sekolah-sekolah menggambarkan
Mazzini sebagai seorang nasionalis sejati bagi negerinya, di samping sebagai
tokoh kemerdekaan Italia, tokoh revolusioner dan bapak kebangsaan Italia. Ini
menunjukkan dengan jelas kuatnya persekongkolan internasional mengelabui
mata dunia sepanjang sejarah.
Pada tahun 1840 kelompok Yahudi berhasil menggaet seorang tokoh genius
yang berlatar belakang militer untuk bergabung ke dalam persekongkolan
internasional, yaitu seorang jenderal berkebangsaan Amerika, Albert Pyke.
Tokoh ini saat itu sedang menaruh dendam kesumat kepada Davis, karena
Davis ini melepaskan personil angkatan bersenjata AS keturunan India anak
buah Pyke, dengan tuduhan kejahatan perang. Kesempatan ini dimanfaatkan
oleh Yahudi untuk mengail dalam air keruh. Pyke diajak pergi ke Italia untuk
dipertemukan dengan Mazzini dan para pengikutnya. Dalam waktu yang tidak
lama Pyke sudah menyerap Program Konspirasi Internasional yang dimainkan
oleh mereka. Lewat berbagai macam iming-iming yang menggiurkan, Pyke
telah muncul sebagai salah satu anggota persekongkolan. Ia bahkan menjadi
sesepuh penting yang punya pikiran untuk menguasai dunia dalam sebuah
pemerintahan diktator di bawah pimpinan persekongkolan Zionis
Internasional. Dengan demikian, Pyke telah mewarisi peran Mazzini dan Weiz
Howight sebagai pengawas pelaksana program persekongkolan Internasional.
Ia memulai tahap baru yang disebut tahap koordinasi dan tahap rencana
militer, untuk disesuaikan dengan ilmu pengetahuan modern. Pyke
menempatkan persekongkolan internasional pada dua sisi, yaitu sisi rencana
dan sisi ilmiah. Para sesepuh Yahudi memberikan kesempatan kepada Pyke
untuk menyelesaikan pertama-tama sisi rencana, dengan memilihkan sebuah
tempat di kota kecil, Little Rock, negara bagian Arkansas. Jenderal Pyke
menempati sebuah Villa indah di pinggiran kota itu selama tahun 1859-1871.
Selama masa itu ia menghabiskan waktunya untuk mempelajari dokumen Weiz
Howight dan proyek persekongkolan setan, lalu menyusun rencana baru
sebagai langkah lanjutan. Pertama kali Pyke menyusun kembali organisasi Free
Masonry, jaringan kerjanya dan hubungannya dengan perkumpulan lainnya,
serta meningkatkan organisasi sesuai dengan faham baru yang lebih rumit,
rahasia dan efektif. Hal ini dirasa perlu oleh para tokoh Yahudi, mengingatbahwa organisasi rahasia menjadi sasaran bagi kecurigaan berbagai kalangan di
seluruh Eropa, setelah terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Mazzini, dan
pengaruh gerakannya yang meluas ke beberapa negara Eropa, yang telah
mengakibatkan berbagai pemberontakan, kekacauan dan pembantaian.
Tuduhan selalu ditujukan kepada tangan Yahudi di balik tirai atas semua
peristiwa itu sebagai biang keladinya.
Demikianlah Pyke telah meletakkan pola baru bagi Free Masonry dalam
bentuk strategi dan pelaksana, dengan membentuk 3 komisi pusat. Yang
pertama berpusat di kota Charleston, South Carolina AS. Yang kedua berpusat
di Roma, Italia, dan yang ketiga berpusat di Berlin, Jerman. Ketiga komisi itu
bertugas mengontrol setiap gerakan Free Masonry, mengkoordinasi dan
memberi instruksi kepada gerakan tersebut dalam bidang tugas, kegiatan dan
kerjasama antara masing-masing bidang, yang cabangnya tersebar di daerah
operasi rawan tertentu di seluruh penjuru dunia. Cabang-cabang itu hingga
kini merupakan pusat penggerak dan pembinaan, serta operasi persekongkolan
jahat di seluruh dunia. Maka persekongkolan dunia yang kita saksikan
merupakan operasi sistematis dengan menggunakan taktik canggih,
berdasarkan riset dan informasi mendetail didukung dengan dana besar oleh
kaum pemilik modal internasional. Maka dengan mudah mereka menyusup di
semua lapangan kehidupan di berbagai negara. Peristiwa yang
didemonstrasikan oleh agen-agen Amerika dan Inggris merupakan fakta yang
bisa kita baca akan besarnya pengaruh persekongkolan internasional dengan
taktik barunya itu. Agen rahasia Amerika dan Inggris terkejut melihat berbagai
peristiwa itu punya gejala yang sama, meskipun setiap peristiwa di dunia
tampak tidak saling berhubungan, dan terjadi di tempat yang berlainan dan
berjauhan. Seolah di situ ada tangan tersembunyi yang menjerat leher dari balik
tabir. Agen-agen itu terus menyelidiki kondisi yang tidak wajar itu, dan
akhirnya ditemukan bukti-bukti, bahwa semua itu memang dikendalikan oleh
tangan-tangan setan Yahudi. Agen-agen itu mengetahui, bahwa banyak
cendekiawan yang disewa oleh persekongkolan Yahudi. Sebenarnya mereka ini
sudah lama menemukan sistem Wireless dari gelombang radio, namun mereka
tidak mengungkapkannya kepada dunia luar. Ini berjalan dalam masa yang
cukup lama. Penemuan ilmiah ini hanya dimanfaatkan untuk kepentingan
persekongkolan Yahudi, dengan mengadakan hubungan kawat antara jenderal
Pyke dan organisasinya di seluruh dunia. Namun tak lama kemudian, seorang
ilmuwan Italia Marcom mengumumkan tentang ditemukannya sistem Wireless
dan radio, sehingga pusat-pusat pengkajian ilmiah mulai mengkaji penemuan
itu lebih mendalam. Jenderal Pyke sendiri setelah itu di Little Rock
meningkatkan efektivitas kerjanya, sesuai dengan majunya ilmu. Sejak itu,
istilah Zionisme disebut-sebut dalam rencana Yahudi, sebelum secara resmi
didirikan dan diproklamasikan pada abad yang silam. Pyke memakai istilah
Zionisme politik untuk mewujudkan pergerakan ini. Pengalaman panjang Weiz
Howight dan berbagai pelajaran yang dialami oleh konspirasi YahudiInternasional merupakan pegangan yang selalu dipakai oleh Howight dalam
gerakan jahatnya. Selanjutnya ia menyusun rencana sebagai berikut :
1) Konspirasi Yahudi Internasional beranjak dari sejumlah rencana dan
proyek sebelumnya sebagai landasan dan titik tolak dari periode
terakhir yang pernah dicapai. Berdasarkan itu, sesepuh Yahudi
menetapkan gerakan subversif internasional yang berpaham atheis
mutlak, dan membebaskan ummat manusia dari ikatan nilai-nilai moral,
agar ummat manusia terjerumus ke dalam kebobrokan dengan
menciptakan faham ekstrem berikut :
1.1. Komunisme
1.2. Fasisme
1.3. Zionisme politik
Untuk menopang terlaksananya usaha ini, segala kekuatan dan dana
yang dimiliki oleh Yahudi harus dicurahkan ke sana, seperti kekuatan
Free Masonry, jaringan subversif, sumber-sumber dana Yahudi,
perusahaan, arus pemikiran atheis, untuk mendukung ketiga faham di
atas, baik terang-terangan maupun secara rahasia.
2) Langkah berikutnya adalah rencana rinci yang merupakan strategi tepat
untuk menjamin tercapainya tujuan terakhir dari konspirasi, yang telah
dicanangkan oleh para tokoh Yahudi, yaitu mempersiapkan terjadinya
perang dunia, yang apinya akan menyala 3 kali berturut-turut. Setelah
itu, gerakan konspirasi akan memetik buah sebagai berikut :
2.1.Memprakarsai meletusnya perang dunia I dengan sasaran untuk
menjatuhkan pemerintah kerajaan Rusia, kemudian menjadikan
negeri itu sebagai pusat gerakan Atheis. Saat itu merupakan babak
baru bagi komunisme ideologis yang didukung kekuasaan. Dari sini
ideologi komunisme akan menyebar luas ke seluruh dunia
menghancurkan setiap perlawanan dan setiap kepercayaan agama
serta nilai-nilai moral. Para tokoh Yahudi benar-benar telah berhasil
menyulut perang yang diprakarsai itu. Langkah pertama yang
ditempuh untuk menyalakan api perang ini adalah dengan
mengadakan perselisihan tajam antara dua kekuatan dunia saat itu,
yaitu Jerman dan Inggris. Sementara itu, para pemilik modal Yahudi
internasional terus bekerja untuk memperuncing pertikaian, dan
mendorong masing-masing pihak untuk saling menggempur, dan
pecahnya perang dunia I yang membinasakan itu.
2.2.Memprakarsai meletusnya perang dunia II dengan tujuan memberi
kesempatan kepada komunisme untuk menguasai separo dari dunia
agar tercapai kekuatan seimbang dengan kekuatan Eropa Barat
secara keseluruhan. Ini merupakan persiapan babak ketiga untuk
menguasai dunia. Di samping itu, perang dunia II juga memberikan
peluang bagi Zionisme politik untuk bisa mewujudkan cita-citaYahudi, yaitu mendirikan negara Israel di Palestina. Negara Yahudi
inilah yang direncanakan menjadi starting point bagi babak ketiga
dan terakhir.
2.3.Akan memprakarsai meletusnya perang dunia III dan terakhir.
Dalam butir rencana ini akan terjadi benturan Zionisme Politik
dengan para pemimpin kaum muslimin di dunia Islam, untuk
menghancurkan Islam, yang dianggapnya sebagai kekuatan terakhir,
yang akan tetap melawan kekuatan setan itu. Ancaman ini punya
sasaran untuk menghancurkan dunia Islam dan aqidah Islamiah,
dengan melibatkan Zionisme Politik dan negara Israel ke dalam
perang itu. Jaringan Yahudi Internasional akan menjebak seluruh
negara di dunia untuk ikut terseret dalam kancah peperangan, yang
akan menghancurkan berbagai bidang kehidupan. Untuk
menghancurkan aqidah Islamiah, bukan rahasia lagi, bahwa
kekuatan Yahudi tengah giat-giatnya mengadakan konspirasi besarbesaran
di Timur Tengah, Timur Dekat dan negara Timur lainnya.
Langkah ini merupakan rangkaian dari satu rencana gila untuk
mewujudkan cita-cita Yahudi.
Adapun rencana persekongkolan Yahudi terhadap dunia Kristen pada masa
pasca perang dunia III tidak ada ungkapan yang lebih tepat, kecuali ucapan
jenderal Pyke dan surat yang ditulisnya sendiri kepada Mazzini tanggal 15
Agustus 1865. Surat itu hingga kini masih tersimpan di Museum London
Inggris. Teks surat itu berbunyi sebagai berikut :
"Kami akan melepas ikatan kelompok pengacau dan atheis, agar bisa berbuat sekehendak
hati. Kami akan mengadakan kerusuhan sosial yang menggemparkan, sehingga bangsa
seluruh dunia tahu, bahwa akibat dari atheisme mutlak adalah lahirnya kebrutalan dan
pertumpahan darah. Pada saat itulah tidak ada lagi jalan bagi ummat manusia di setiap
penjuru bumi untuk menyelamatkan dari jenis manusia minoritas Yahudi itu.
Kemudian menyusul para pemeluk Kristen akan kehilangan kepercayaan mereka
terhadap agama yang dianut. Mereka akan sangat membutuhkan ideologi. Saat itulah
mereka akan melihat cahaya sejati, yaitu ketika ideologi setan tersingkap kami buka, dan
mengajak ummat manusia secara terang-terangan, karena orang Kristen telah
menghancurkan agamanya sendiri.

KONSPIRASI 1 SEPUTAR BANGASA YAHUDI

SEJARAH SINGKAT BANGSA YAHUDI
Berbicara tentang bangsa Yahudi artinya kita bersoal tentang asal-usul, sejarah,
taktik dan permainan yang mereka lakukan, sehingga bangsa Yahudi itu
berhasil mendirikan sebuah negara Yahudi di bumi Palestina yang bersifat
temporer. Hal ini akan kita bahas lebih lanjut.
Bangsa Yahudi yang ada sekarang ini bisa dibagi menjadi dua golongan, yaitu
Yahudi Semitik dan Yahudi Ezkinaz. Yang terakhir ini juga sering disebut
Yahudi non-Semitik. Adapun asal-usul Yahudi Semitik sendiri masih
dipersengketakan oleh para sejarawan. Sebagian berpendapat, mereka adalah
keturunan Nabi Ibrahim. Beliau ini berhijrah dari kota Aur di sebelah Selatan
Mesopotamia, menuju ke Khurran di Syiria. Di sinilah ayah Nabi Ibrahim
meninggal dunia. Kemudian Nabi Ibrahim berpindah lagi menuju bumi
Kananiah sekitar tahun 2000 SM. Di antara keturunan beliau adalah Nabi
Ya'kub, yang diberi gelar Israel, sehingga anak cucunya kelak dipanggil dengan
Bani Israel. Di antara keturunan Ya'kub (Israel) adalah Nabi Yusuf yang pernah
menjabat semacam Menteri Pertanian Mesir, sehingga anak cucu Ya'kub (Bani
Israel) berdiam di Mesir hingga masa Nabi Musa as. Beliau inilah yang
mengajak Bani Israel keluar dari Mesir, untuk menyelamatkan diri dari
penindasan Fir'aun. Versi ini banyak dipegang oleh para sejarawan dan para
tokoh Yahudi sendiri.
Sebagian sejarawan lagi berpendapat, bahwa bangsa Yahudi pada hakikatnya
adalah bangsa campuran antara berbagai unsur (mixed race) yang dipersatukan
oleh satu nasib dan watak. Mereka hidup mengembara seperti kaum gypsy
pada masa Jahiliyah, atau seperti kaum pengembara Syatharien, dan Iyarien
(Vagabonds) pada masa Dinasti Abbasiah. Dalam pengembaraannya dari satu ke
lain daerah itu, bangsa Yahudi pernah menyerbu ke kota-kota bumi Kananiah,
kemudian merampok dan merampas harta penduduknya. Mereka membentuk
komunitas yang memiliki karakteristik tersendiri dan bahasa campuran antara
bahasa klasik seperti bahasa Syiriak, Akadian dan bahasa Phinisian.
Kalau kebenaran sejarah Yahudi Semitik telah mengalami kesimpangsiuran,
dan asal-usul mereka dimasalahkan, maka ajaran agama Yahudi yang murni
dari sudut mana pun diragukan keasliannya, setelah tertimbun dalam berbagai
pemalsuan. Dasar yang melandasi pola pikir dan tingkah-laku Yahudi tidak
lain adalah ajaran Talmud, yaitu pedoman rahasia yang tidak diketahui dengan
pasti, kecuali oleh mereka sendiri.8 Dengan demikian, kedudukan ajaran agama
Yahudi sebagai agama samawi telah cenderung berubah menjadi 'Organisasi
Rahasia'. Dengan meneliti sejarah Yahudi dalam kisah Nabi Musa menurut
Kitab Suci, kita akan mengetahui, bahwa Nabi Musa hidup di Mesir bersamakaumnya, Bani Israel di bawah naungan Pemerintah Mesir itu. Kemudian
mereka meninggalkan negeri itu untuk menyelamatkan diri dari kejaran raja
Fir'aun dan bala-tentaranya menuju Palestina. Ketika Nabi Musa wafat, mereka
belum bisa memasuki pintu wilayah Palestina. Pada masa Nabi Daud, mereka
bisa memasuki tanah Palestina dari Sinai, dan menguasai Yerusalem kira-kira
pada tahun 2000 SM. Namun mereka juga belum bisa menguasai seluruh
wilayah Palestina. Pada masa pemerintahan Nabi Sulaiman putra Daud,
kerajaan mereka terbagi menjadi kerajaan kecil-kecil. Dan kerajaan purba inilah
yang sekarang dijadikan alasan historis untuk mengklaim sahnya negara
Yahudi di Palestina sekarang. Padahal, kerajaan Yahudi dalam sejarah Nabi
Daud dan Nabi Sulaiman tidak lebih dari sebuah kota dan desa-desa
sekelilingnya.9 Hanya karena kebiasaan saja, bangsa Yahudi memanggil
pemimpinnya dengan sebutan 'Raja'.
Di antara kerajaan tersebut yang terkenal adalah kerajaan Sumeria dan kerajaan
Yahuda. Raja Sargeus dari Yunani pernah menyerbu negeri Sumeria pada
tahun 576 SM. Sedang raja Nebuchadnezzar II dari Babilonia menyerbu
kerajaan Israel yang ibu kotanya Yerusalem, kemudian menghancurkan Kuil
Sulaiman. Orang-orang Yahudi ditawan dan digiring ke Babilonia. Di sinilah
para tokoh Yahudi membesarkan hati kaumnya dengan konsep janji Tuhan dan
Bumi Nenek Moyang. Sejak itu, dalam perjalanannya mereka selalu berusaha
untuk bisa kembali ke Palestina dengan berbagai cara dan upaya. Namun
mereka selalu menemui kegagalan, meskipun telah mencoba berkali-kali.
Bahkan akibatnya justru membuat mereka bertambah ketat di bawah
pengawasan penguasa. Tidak jarang kekejaman penguasa menjadi penderitaan
rutin yang mereka alami, dan mengakibatkan kegiatan-kegiatan eksodus dan
diaspora orang-orang Yahudi makin meluas ke seluruh penjuru bumi untuk
menyelamatkan diri. Dari tanah Babilonia lah para pemuka Yahudi
menemukan ide dan konsep Bumi Yang Dijanjikan dan konsep Bangsa Pilihan
Tuhan, dengan harapan ide semacam itu akan bisa melestarikan persatuan dan
kemurnian Ras Yahudi, dan untuk mengembalikan kepercayaan diri bangsa
Yahudi.
Dari kilasan fakta di atas kita bisa melihat, bagaimana bangsa Yahudi
sepanjang sejarah mengendalikan perkumpulan rahasia, yang dikembangkan
dengan getol untuk mewujudkan cita-cita mereka. Makin lama perkumpulan
rahasia itu berkembang mirip dengan pemerintahan terselubung, yang
dikendalikan oleh tokoh-tokoh Yahudi Internasional, yang berdiam di berbagai
penjuru dunia. Bangsa Yahudi punya keyakinan, bahwa bangsa lain adalah
'Goya', atau dalam bahasa Ibraninya 'Goyim', yang juga sering disebut
'Gentiles', atau 'Umamy' dalam bahasa Arabnya, yang berarti bangsa lain itu
diciptakan Tuhan untuk kepentingan Yahudi belaka, sebagai bangsa pilihankaumnya, Bani Israel di bawah naungan Pemerintah Mesir itu. Kemudian
mereka meninggalkan negeri itu untuk menyelamatkan diri dari kejaran raja
Fir'aun dan bala-tentaranya menuju Palestina. Ketika Nabi Musa wafat, mereka
belum bisa memasuki pintu wilayah Palestina. Pada masa Nabi Daud, mereka
bisa memasuki tanah Palestina dari Sinai, dan menguasai Yerusalem kira-kira
pada tahun 2000 SM. Namun mereka juga belum bisa menguasai seluruh
wilayah Palestina. Pada masa pemerintahan Nabi Sulaiman putra Daud,
kerajaan mereka terbagi menjadi kerajaan kecil-kecil. Dan kerajaan purba inilah
yang sekarang dijadikan alasan historis untuk mengklaim sahnya negara
Yahudi di Palestina sekarang. Padahal, kerajaan Yahudi dalam sejarah Nabi
Daud dan Nabi Sulaiman tidak lebih dari sebuah kota dan desa-desa
sekelilingnya.9 Hanya karena kebiasaan saja, bangsa Yahudi memanggil
pemimpinnya dengan sebutan 'Raja'.
Di antara kerajaan tersebut yang terkenal adalah kerajaan Sumeria dan kerajaan
Yahuda. Raja Sargeus dari Yunani pernah menyerbu negeri Sumeria pada
tahun 576 SM. Sedang raja Nebuchadnezzar II dari Babilonia menyerbu
kerajaan Israel yang ibu kotanya Yerusalem, kemudian menghancurkan Kuil
Sulaiman. Orang-orang Yahudi ditawan dan digiring ke Babilonia. Di sinilah
para tokoh Yahudi membesarkan hati kaumnya dengan konsep janji Tuhan dan
Bumi Nenek Moyang. Sejak itu, dalam perjalanannya mereka selalu berusaha
untuk bisa kembali ke Palestina dengan berbagai cara dan upaya. Namun
mereka selalu menemui kegagalan, meskipun telah mencoba berkali-kali.
Bahkan akibatnya justru membuat mereka bertambah ketat di bawah
pengawasan penguasa. Tidak jarang kekejaman penguasa menjadi penderitaan
rutin yang mereka alami, dan mengakibatkan kegiatan-kegiatan eksodus dan
diaspora orang-orang Yahudi makin meluas ke seluruh penjuru bumi untuk
menyelamatkan diri. Dari tanah Babilonia lah para pemuka Yahudi
menemukan ide dan konsep Bumi Yang Dijanjikan dan konsep Bangsa Pilihan
Tuhan, dengan harapan ide semacam itu akan bisa melestarikan persatuan dan
kemurnian Ras Yahudi, dan untuk mengembalikan kepercayaan diri bangsa
Yahudi.
Dari kilasan fakta di atas kita bisa melihat, bagaimana bangsa Yahudi
sepanjang sejarah mengendalikan perkumpulan rahasia, yang dikembangkan
dengan getol untuk mewujudkan cita-cita mereka. Makin lama perkumpulan
rahasia itu berkembang mirip dengan pemerintahan terselubung, yang
dikendalikan oleh tokoh-tokoh Yahudi Internasional, yang berdiam di berbagai
penjuru dunia. Bangsa Yahudi punya keyakinan, bahwa bangsa lain adalah
'Goya', atau dalam bahasa Ibraninya 'Goyim', yang juga sering disebut
'Gentiles', atau 'Umamy' dalam bahasa Arabnya, yang berarti bangsa lain itu
diciptakan Tuhan untuk kepentingan Yahudi belaka, sebagai bangsa pilihanKemudian, pada tahun 160 M Palestina dan wilayah Syam lainnya dikuasai
oleh kerajaan Romawi. Rajanya, yaitu raja Herod Agung (40-4 SM) membangun
istana dan juga membangun Kuil Sulaiman (Salomon Temple) kembali, di
samping memberikan kebebasan kepada penduduk Yahudi. Namun pada
tahun 77 M raja Titus bertindak keras terhadap orang Yahudi, karena mereka
mengadakan pemberontakan dan kekacauan di negeri itu, sehingga kota
Yerusalem hancur. Kemudian raja mengeluarkan peraturan yang melarang
orang Yahudi berdiam di Yerusalem atau berziarah ke Kuil Sulaiman.10 Sampai
beberapa abad kemudian bangsa Romawi itu tetap bercokol hingga
ditaklukkan oleh kaum Muslimin. Kemudian penduduk asli setempat masuk
agama Islam. Mereka adalah bangsa Arab yang merupakan mayoritas
penduduk bumi Palestina, sampai awal abad ke 20 ini. Setelah kedatangan
orang-orang Yahudi secara besar-besaran dari seluruh penjuru dunia, jumlah
penduduk Arab sekarang berbalik menjadi minoritas. Hal ini terjadi karena
kebijakan deportasi Pemerintah Israel terhadap penduduk Arab, dengan
dukungan penuh dari gerakan Zionisme Internasional.
Demikianlah latar belakang bangsa Yahudi Semitik. Adapun kaum Zionis
sekarang yang jumlahnya 82% dari seluruh penduduk adalah orang Yahudi
jenis Ezkinaz (non-Semitik), sesuai dengan sumber Zionisme sendiri.11
Pada abad pertama Masehi, sejumlah orang berdarah Turki Mongolia
meninggalkan negeri mereka, keluar berjalan menuju arah Barat dari Asia,
melintasi daerah yang terletak di sebelah Utara Laut Kizwin dan Laut Mati.
Mereka ini mendirikan kerajaan besar yang disebut 'Kerajaan Kojar'. Oleh sebab
itu, Laut Kizwin juga disebut Laut Kojar. Orang Kojar berdarah Turki Mongolia
itu menganut kepercayaan Animisme. Dalam perjalanan sejarah, ternyata
mereka lebih cenderung untuk memeluk agama Yahudi Baru, yang telah
mengalami perubahan oleh tangan tokoh-tokoh Yahudi pada masa penindasan
raja Nebuchadnezzar II dan penguasa Babilonia sesudahnya, dan juga pada
masa-masa lain yang berbeda. Tentang bagaimana agama Yahudi sampai
kepada Kojar itu, tidak banyak ditulis dalam sejarah. Dan bagi sebagian bangsa
Yahudi, bangsa Kojar tidak dianggap sebagai golongan mereka, yang di sini
tidak perlu disebut secara rinci.12 Kerajaan Kojar berlangsung cukup lama
dengan wilayah kekuasaan yang cukup luas, dan mencapai masa kejayaannya
pada abad ke 9 M.Kemudian pada tahun 965 M kerajaan Kojar dikalahkan dan dikuasai oleh
bangsa Slavia, setelah terjadi pertempuran sengit bertahun-tahun antara kedua
belah pihak. Penindasan penguasa Slavia terhadap orang-orang Yahudi Kojar
kemudian menimbulkan arus pelarian ke luar negeri. Sebagian mereka
melarikan diri dan hidup di bawah Pemerintahan Rusia. Para pelari ini
membentuk kelompok masyarakat bawah tanah, yang kemudian tidak jarang
mendalangi timbulnya kekacauan atau tindak pembunuhan politik di Rusia.
Sebagian besar lainnya melarikan diri ke Eropa Timur. Dari sini mereka
menyebar ke seluruh dunia, terutama ke Amerika Serikat. Dan anak cucu
Yahudi Kojar itulah yang kemudian membanjiri Palestina sekarang, dan
mengklaim adanya hak sejarah yang sah bagi bangsa Yahudi di Palestina dalam
artian yang sebenarnya. Seperti telah kita singgung terdahulu, kerajaan Yahudi
berlangsung tidak lama, yaitu periode kekuasaan Nabi Daud dan Nabi
Sulaiman. Sedang kekuasaan Yahudi lainnya tidaklah lebih dari kekuasaan atas
satu kota beserta desa sekitarnya, mirip kehidupan suku-suku yang bermukim.
Mereka belum pernah membentuk komunitas di seluruh Palestina, karena
mereka bukanlah penduduk asli. Sama dengan keadaan Yahudi di Israel
sekarang, mereka datang dari berbagai penjuru dunia sebagai imigran, yang
tidak ada hubungannya dengan darah Yahudi Semitik.
Sebagai akibat wajar dari keyakinan bangsa Yahudi dan perasaan hidup dalam
ketidakpastian selama sejarah mereka, ditambah lagi dengan adanya
keyakinan, bahwa bangsa Yahudi adalah 'Bangsa Pilihan Tuhan', maka mereka
selalu mengandalkan taktik subversif, dan menciptakan suasana kacau di
negeri-negeri di mana mereka berdiam. Dalam sejarah, mereka dikenal sebagai
golongan yang terorganisasi rapi dan rahasia, sehingga banyak peristiwa
sejarah yang didalangi oleh orang-orang Yahudi itu. Kita bisa memperhatikan
sifat mereka yang membenci bangsa lain (Gentiles), di samping membenci
setiap pemerintahan kuat yang lahir dalam sejarah.
Sementara itu, Islam muncul sebagai kekuatan yang besar, yang tidak
dikehendaki oleh Yahudi. Kaum Yahudi menyebar ke seluruh wilayah kaum
Muslimin untuk menyulut benih-benih perselisihan, pemberontakan dan
perpecahan. Mereka berhasil mendirikan beberapa sekte sesat di tengah
masyarakat Muslim dan beberapa gerakan sesat bawah tanah, yang bertujuan
melemahkan kekuatan ummat Islam. Setelah kaum Muslimin melemah, dan
superioritas dunia berada di tangan dunia Kristen Eropa, orang Yahudi
memindahkan kegiatan mereka ke negeri-negeri itu, terutama Inggris dan
Perancis. Dan awal abad ini kekuatan dunia berbalik ke tangan Amerika dan
Rusia. Maka, kegiatan Yahudi pun berpindah ke sana.
Akan tetapi, meskipun keadaan kaum Muslimin sangat lemah pada masa
pemerintahan Sultan Abdul Hamid, orang Yahudi tidak berhasil membeli bumi
Palestina dengan kekayaan yang mereka miliki. Bahkan Sultan Abdul Hamid,
seorang penguasa kerajaan Turki Utsmani yang dikambinghitamkan oleh para
sejarawan, telah menunjukkan sikapnya yang tegas terhadap Theodore Herzl,pemimpin gerakan Zionisme Internasional kala itu, yaitu pada akhir abad
ke 19. Sultan Abdul Hamid menunjukkan pendiriannya yang tegas dengan
menolak kehadiran Herzl untuk memberikan suap kepada Sultan, agar beliau
mengizinkan orang Yahudi hijrah ke Palestina. Kemudian Sultan Hamid
mengirim catatan khusus kepada Herzl lewat kawannya Neolinsky.
Sebagaimana ditulis sendiri oleh Herzl dalam buku hariannya halaman 35,
yang dimuat dalam media Pusat Studi PLO. Sultan pesan kepada Neolinsky
sebagai berikut :
"Jika Herzl benar-benar kawanmu, sebagaimana Anda adalah kawanku juga, maka
tolong beritahukan agar Herzl jangan sekali-kali meneruskan langkahnya, karena aku
tidak akan menjual sejengkal pun wilayah kerajaanku. Kerajaanku bukanlah milik
pribadiku, melainkan milik seluruh kaum Muslimin. Dan untuk memperoleh itu,
mereka telah mengorbankan harta benda dan hidupnya. Oleh karena itu, kami akan
mempertahankan bumi itu dengan darah kami pula, dari setiap usaha yang dilakukan
oleh pihak luar untuk merebutnya. Pasukan kami telah terjun dalam medan perang di
Syiria dan Palestina. Mereka rela gugur satu demi satu, karena tidak ada seorang pun
dari prajurit kami yang mau menyerah kepada musuh. Mereka lebih senang mati
membela kehormatan Islam daripada hidup dalam kenistaan. Kerajaan Turki bukanlah
milik pribadiku, melainkan milik bangsa Turki. Tanah sejengkal pun tidak boleh dijarah
orang. Orang Yahudi supaya menyimpan saja jutaan uang miliknya itu. Seandainya
kerajaan ini bisa dihancur-luluhkan orang Yahudi boleh mengambil tanah Palestina
dengan cuma-cuma. Akan tetapi harus diingat, bahwa kerajaan kami tidak pernah akan
mundur dari tekad, yang telah kami pegang selama ini. Orang Yahudi tidak akan bisa
menghancurkan kami, sebelum mereka bisa melangkahi mayat-mayat kami lebih dulu."
Apa yang terjadi setelah orang Yahudi mengetahui ketegaran sikap Sultan
Abdul Hamid? Ternyata mereka tidak kehilangan akal. Dengan menggunakan
orang Yahudi warga Turki sendiri yang bergerak di bawah tanah, yaitu
wilayah Turki yang sekarang menjadi bagian dari wilayah Yunani, mereka
berhasil menumbangkan kekuasaan Sultan Abdul Hamid. Sultan sendiri
akhirnya mengetahui sebab-sebab pokok yang membuatnya terguling. Hal ini
bisa dilihat dari sepucuk surat Sultan kepada Syeikh Mahmud Abu Syamat di
Damaskus. Dikatakan dalam surat itu, bahwa Sultan mendapat tawaran dari
para tokoh Yahudi berupa sejumlah uang emas, dengan imbalan beliau
mengizinkan orang-orang Yahudi hijrah ke Palestina, yang akhirnya mereka
akan mendirikan sebuah negara di sana. Prof. Sa'id Al-Afgani mengupas selukbeluk
dokumen itu dalam majalah Al-Araby edisi 169 Desember 1972 sebagai
berikut :
"Syeikh Mahmud Abu Syamat adalah sesepuh kelompok Tharikat Sadzaly
Yashrithy. Dia adalah penerus pertama yang menggantikan pimpinan Tharikat
itu setelah pendirinya Syeikh Ali Al Yashrithy meninggal dunia. Raghib Ridha,
yaitu kepala urusan istana Sultan adalah murid Syeikh Syamat. Setiap kali
berkunjung ke Istanbul, Syeikh Syamat selalu menginap di rumah muridnya
itu. Sultan menanyakan, siapa yang menjadi tamu dan menginap di kediaman
kepala urusan istananya itu. Setelah Raghib Ridha menjelaskan siapa SyeikhSyamat itu, Sultan merasa tertarik dan bermaksud mengundangnya ke istana.
Kemudian Sultan akhirnya memutuskan untuk menjadi muridnya, diikuti oleh
para pemuka masyarakat Istanbul, para pejabat pemerintah kerajaan Turki dan
para prajuritnya. Ketika Sultan digulingkan dan diasingkan dalam sebuah
istana yang terletak di daerah Salonika, ternyata salah satu penjaga di istana
pengasingan itu adalah seorang murid Syeikh Syamat juga. Dengan surat
melalui orang tersebut, Sultan diam-diam mengadakan hubungan
korespondensi dengan Syeikh Abu Syamat. Surat itu tetap disimpan oleh
Syeikh Abu Syamat dan anak-anaknya. Baru pertama kali inilah surat
dokumenter penting tersebut dimuat dalam sebuah buku. Berikut ini adalah
lembaran surat tersebut :
Itulah lembaran pertama surat Sultan Abdul Hamid kepada Syeikh Abu
Syamat, yang ditulis dalam bahasa Turki.
Tulisan di atas adalah lembaran kedua. Berikut ini adalah salinan surat Sultan
Abdul Hamid dalam bahasa Arab, yang diterjemahkan ke dalam bahasa
Indonesia dengan bebas.
YA HUWA13
Bismillâhirrahmânirrahîm
Segala puji bagi Allah, dan salam sejahtera kami panjatkan kepada junjungan
kita Nabi Muhammad saw, segenap keluarganya, dan para sahabat sekalian
hingga Hari Pengadilan.
Saya tulis surat ini kepada yang mulia Syeikh Tharikat abad ini Ali Sadzaly,
cahaya Ruh dan kehidupan 'Syeikh Mahmud Effendy Abu Syamat'. Kami akan
menyambut uluran kedua tangan beliau yang mulia, dengan mengharapkan
do’a restu beliau.
Setelah menghaturkan rasa hormat perlu saya sampaikan, bahwa surat Anda
tanggal 22 Mei tahun ini telah saya terima dengan selamat. Alhamdulillah saya
ucapkan, bahwa Anda dalam keadaan sehat walafiat. Tuanku yang mulia,
dengan Taufik dan Hidayah Allah ta'ala, saya bisa melakukan amalan wirid
Tharikat Sadzaly siang dan malam. Saya perlu menyampaikan bahwa hingga
saat ini saya terus membutuhkan panggilan batin anda. Selain itu, ada masalah
yang perlu saya sampaikan kepada Anda dan orang yang bisa diajak berpikir
seperti Anda, berkenaan dengan masalah yang sangat penting berikut ini,
sebagai amanat perjalanan sejarah.
Saya meninggalkan kekhalifahan bukan karena suatu sebab tertentu, melainkan
karena adanya tipu daya dengan berbagai ancaman dari tokoh-tokoh
Organisasi Persatuan yang dikenal dengan sebutan Cun Turk, sehinggaterpaksa saya meninggalkan kekhalifahan itu.14 Sebelumnya, Organisasi ini
telah mendesak saya berulang-ulang, agar saya menyetujui dibentuknya
sebuah negeri nasional bagi bangsa Yahudi di Palestina. Saya tetap tidak
menyetujui permohonan berulang-ulang yang memalukan itu. Akhirnya
mereka menjanjikan uang sebesar 150 juta poundsterling emas. Saya tetap
dengan tegas menolak tawaran itu. Saya menjawab dengan kata-kata,
'Seandainya kalian membayar dengan seluruh isi bumi ini, aku tidak akan
menerima tawaran itu. Tiga puluh tahun lebih aku hidup mengabdi kepada
kaum Muslimin dan kepada Islam itu sendiri. Aku tidak akan mencoreng
lembaran sejarah Islam yang telah lama dirintis oleh nenek-moyangku, para
Sultan dan khalifah kerajaan Turki Utsmani. Sekali lagi, aku tidak akan
menerima tawaran kalian.'
Setelah mendengar dan mengetahui sikap dan jawaban saya itu, mereka
dengan kekuatan rahasia yang mereka miliki memaksa saya menanggalkan
kekhalifahan, dan mengancam akan mengasingkan saya di Salonika. Maka
terpaksa saya menerima keputusan itu daripada menyetujui permintaan
mereka. Saya masih bersyukur kepada Allah, karena saya menolak untuk
mencoreng kerajaan Islam Turki, dan dunia Islam pada umumnya dengan noda
abadi yang diakibatkan oleh berdirinya negeri Yahudi di tanah Palestina.
Biarlah semua berlalu. Saya tidak bosan mengulang-ulang rasa syukur kepada
Allah ta'ala, yang telah menyelamatkan kita dari aib besar itu. Saya rasa cukup
di sini apa yang perlu saya sampaikan dan sudilah Anda dan segenap ikhwan
menerima salam hormat saya. Guruku yang mulia, mungkin sudah terlalu
banyak yang saya sampaikan. Harapan saya, Anda beserta jamaah yang Anda
bina bisa memaklumi semua itu."
Wassalamu’alaikum wr. wb.
22 September 1909
ttd
Pelayan Kaum Muslimin (Adul Hamid bin Abdul Majid)

Sabtu, 16 Juni 2012

MATERI KULIAH SOSIOLOGI PEDESAAN






BAHAN KULIAH

SOSIOLOGI PEDESAAN


Oleh:

DRS. PERIBADI, M.SI

Beberapa Tulisan Ilmiah Populer Dapat dilihat:



JURUSAN SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL
DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI 2011
TRANSPARANSI KULIAH 1


VARIABEL                   KAJIAN SOSILOGI

·       HUKUM
·       ETIKA
·       ATURAN
·       AGAMA
·       NORMA
·       NILAI
·       PANCASILA
·       KAPITALIS
·       SOSIALISME
·       FASISME
·       DLL
SOSIOLOGI ………..?????


·       INETRAKSI SOSIAL
·       HUBUNGAN SOSIAL
·       STRATIFIKASI SOSIAL
·       STRUKTUR SOSIAL
·       PROSES SOSIAL
·       PERUBAHAN SOSIAL
·       MASALAH SOSIAL



PERDESAAN???
·    IDIOLOGI
·    POLITIK
·    EKONOMI
·    SOSIAL
·    BUDAYA
·    HANKAMNAS
·    HANKAMRATA
·    PENDIDIKAN
·    KETERAMPILAN
·    KKN
·    SUPREMASI

SEBUAH LINGKARAN SETAN YANG TAK BERUJUNG PANGKAL






Dalam Order Paradigm >> dikenal beberapa asumsi dasar yang mendasari, sebagaimana diuraikan Perdue (1986:43-44) berikut ini :
1.    HUMAN NATURE
a.     Manusia lebih bersifat individualistic (private) dari pada sosial (publik), cenderung kompetitif dari pada kooperatif.
b.    Keteraturan sosial dimungkinkan, karena adanya kekuatan akal sehat (the power of reason) yang ada pada manusia. Egonya Rela diserahkan pada otoritas sosial guna terciptanya kesatuan (societal cohesion).
c.     Adanya ketimpangan antar individu adalah wajar terjadi dalam keteraturan kehidupan sosial.
2.    THE NATURE OF SOCIETY:
a.     Kecenderungan yang mengarah pada ketidakteraturan, jaminan kelangsungan hidup hanya dapat diciptakan dengan institusi yang kuat dan terintegrasi.
b.    Ketimpangan personal yang bersifat alamiah, masyarakat yang sehat akan mengatur pembagian tugas-tugas sehingga tercermin adanya perbedaan bawaan.
c.     Sifat alamiah masyarakat tercermin pada institusi yang saling bergantung dan menjadi penghalang perilaku pribadi. Contoh Plato, Dhurkheim, dan lain-lain melihat masyarakat secara organis. Talcott Parsons menggunakan metaphor mekanis (sistem). Sifat alamiah masyarakat adalah titik equilibrium.
d.    Institusi dan norma-norma dapat dipastikan keberadaanya karena adanya consensus.
e.     Akibat consensus, masyarakat diharapkan mengikuti (conform) terhadap tatanan yang ada.
f.       Keteraturan sosial yang absah dan secara alamiah terdapat mekanisme adaptasi dalam sistem sosial.
g.     Perubahan sosial yang dipaksakan dianggap berbahaya terhadap kesatuan sosial dan solidaritas.
3.    THE NATURE OF SCIENCE
a.     Ada keteraturan sitematik di dalam kehidupan sosial (the sosial universal) sebagaimana pada alam (the natural universal).
b.    Ilmu pengetahuan sosial positif (a positive science of society) mengarahkan penelitian untuk mencari kepastian hubungan antar berbagai variabel sosial. Sosiologi memiliki persamaan dengan ilmu pengetahuan alam (natural sciences).
c.     Ilmu penegetahuan sosial empiris. Pengetahuan yang didasarkan pada indera dan observasi empiris yang ketat ini menggantikan rasionalisme objektif yang sangat menekankan pada penalaran murni (Pure reason).
d.    Fakta-fakta sosial memiliki sifat kuantitatif. Karena itu, fakta-fakta sosial memungkinkan untuk diukur dengan menggunakan angka-angka.
e.     Lingkungan sosial dilihat memiliki lingkup berbeda dan berdiri independen (bebas) dari lingkungan alam (physical environment). Namun ilmu pengetahuan sosial tidak harus bersifat unik (berbeda). Sains tidak merubah keadaan maupun metode-metode hanya karena perbedaan dalam objek kajian (the subject matter).
f.       Hubungan antar variabel harus dinyatakan dalam bahasa yang jelas dengan menyertakan terminology yang secara jelas telah didefenisikan. Para ahli modern yang berpegang pada pendekatan positivistic menuntut adanya “definisi operasional” yang memungkinkan konsep-konsep kunci dapat diukur dan dipahami secara utuh oleh mereka yang ingin melakukan pengetesan proposisi-proposisi teoritiknya, melalui penelitian. Misalnya bila konsep kunci dalam teori tentang proses belajar adalah << intelligence >> . Maka definisi operasional <<intelligence>> adalah ukuran-ukuran yang digunakan dalam test-test intelligence.





Secara, keseluruhan THE ORDER PARADIGM tersebut dapat disimak dalam bagan berikut ini:

PARADIGMATIC ELEMENTS
ASSUMPTIONS
IDEAL TYPES
Image of human nature
Reason, self-interest, personal inequality
Hobbes’s state of nature
Image of society
Cohesion, integration, consensus, self correction, sosial inequality
Plato’s republic
Image of science
Sistematic, positive, empirical, quantitative, predictive
Comte’s positivism Durkheim’s functionalism

PERBEDAAN MASYARAKAT KOTA DAN MASYARAKAT DESA

Masyarakat perkotaan
Gambar
sering disebut urban community. Pengertian masyarakat kota lebih ditekankan pada sifat kehidupannya serta cirri-ciri kehidupannya yang berbeda dengan masyarakat pedesaan. Ada beberap cirri yang menonjol pada masyarakat kota yaitu :
kehidupan keagamaan berkurang bila dibandingkan dengan kehidupan keagamaan di desa
orang kota paa umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain. Yang penting disini adalah manusia perorangan atau individu
pembagian kerja di antra warga-warga kota juga lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata
kemungkinan-kemungkinan  untuk mendapatkan pekerjaan juga lebih banyak diperoleh warga kota dari pada warga desa
interaksi yang terjai lebih banyak terjadi berdasarkan pada factor kepentingan daripaa factor pribadi
pembagian waktu yang lebih teliti dan sangat penting, untuk dapat mengejar kebutuhan individu
perubahan-perubahan sosial tampak dengan nyata di kota-kota, sebab kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh dari luar.

Perbedaan desa dan kota
jumlah dan kepadatan penduduk
lingkungan hidup
mata pencaharian
corak kehidupan sosial
stratifikasi sosial
mobilitas sosial
pola interaksi sosial
solidaritas sosial
kedudukan dalam hierarki administrasi nasional

Paradigma perilaku sosial


PARADIGMA PERILAKU SOSIAL
Teori Pertukaran Sosial dan Pilihan Rasional

“Do ut des”. Saya memberi supaya engkau memberi. Asumsi dasar teori pertukaran ini, menjelaskan hubungan sosial menurut costs and rewards. Pertimbangan untung dan rugi pada teori ini, boleh dianggap memotivasi dan memodifikasi tingkah laku manusia, dalam hubungan sosialnya.

Teori ini telah disinggung oleh beberapa ahli, antara lain:
1. Durkheim (1858-1917), dalam teorinya mengenai solidaritas organis, mengandung suatu proses pertukaran. Pertumbuhan dalam pembagian pekerjaan dan tingkat spesialisasi yang semakin tinggi, mengandung suatu peningkatan dalam besarnya suatu transaksi pertukaran yang terjadi dalam masyarakat. Perilaku kerjasama ini mengandung proses pertukaran.
2. George Simmel (1858-1918), pernah menyatakan bahwa motivasi yang mendorong seseorang berkontak dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan tujuan-tujuan tertentu.

Perkembangan teori pertukaran dimulai dari akarnya, yakni behaviorisme dan teori pilihan rasional.

Behaviorisme
Ritzer, sosiolog behavioral tertarik pada hubungan antara sejarah reaksi lingkungan atau konsekuensi dengan sifat perilaku yang saat ini dilakukan. Konsekuensi-konsekuensi dimasa lalu dari perilaku tertentu akan membentuk perilaku dalam keadaan sekarang. Hal paling menarik dari kalangan behavioris yakni imbalan (dorongan) dan ongkos/biaya (hukuman). Imbalan didefinisikan oleh kemampuannya memperkuat (mendorong) perilaku, sementara ongkos mengurangi kecenderungan dilakukannya suatu perilaku.

Teori Pilihan Rasional (Teori Dasar Rasionalitas)
Friedman dan Hechter (1988) dalam teori yang disebutnya model “kerangka” teori pilihan rasional memusatkan perhatian pada aktor. Aktor dipandang sebagai manusia yang mempunyai tujuan dan tindakannya tertuju pada upaya mencapai tujuan itu.

Teori ini memperhatikan 2 pemaksa utama tindakan aktor. Pertama, keterbatasan sumber: aktor mempunyai sumber yang berbeda maupun akses yang berbeda terhadap sumber daya yang lain. Dalam kelangkaan sumber daya adalah gagasan tentang biaya kesempatan. Dalam mencapai suatu tujuan, aktor harus memperhatikan biaya yang harus dikeluarkan untuk tindakan yang terpenting selanjutnya. Aktor dapat memilih untuk tidak mengejar tujuan paling bernilai jika sumber daya yang dimilikinya, diperhitungkan tidak dapat mencapai hal tersebut, yang membuat kesempatan untuk mencapai tujuan itu begitu tipis, dan justru membahayakan peluang untuk mencapai tujuan lain yang lebih bernilai. Aktor dipandang selalu berusaha memaksimalkan keuntungan mereka. Kedua, lembaga sosial: hambatan kelembagaan menyediakan baik sanksi positif maupun sanksi negatif yang membantu mendorong aktor untuk melakukan tindakan tertentu dan menghindarkan tindakan yang lain.

Formasi awalnya, teori pertukaran dipengaruhi oleh teori dasar rasionalitas. Inilah yang akan membentuk pola-pola awal dari pendapat Homans dan rekan-rekannya. Dalam tulisan ini, akan dibahas 4 tokoh pengembang teori pertukaran.

1. Teori Pertukaran George Caspar Homans
Tokoh yang dimotivasi oleh teori fungsionalisme struktural dari Talcot Parsons yang diakuinya sebagai kolega dan sahabatnya ini, membahas sekurang-kurangnya interaksi dari 2 individu. Proposisinya berhubungan dengan perilaku individu, ketimbang sebagai perilaku kelompok atau masyarakat; dan perilaku manusia biasanya dipandang sebagai bagian dari psikologi.

Ada beberapa proposisi yang ditawarkan Homans, antara lain:

1. Proposisi Sukses
“Semakin sering tindakan seseorang dihargai atau mendapat ganjaran,[1] maka semakin besar kemungkinan orang tersebut melakukan tindakan yang sama”.
Akan tetapi, Homans memberikan beberapa catatan berkaitan dengan proposisi ini, yaitu : (a) Perulangan tingkah laku karena mendapat ganjaran ini tidak dapat berlangsung tanpa batas. (b) Semakin pendek jarak waktu antara tindakan dan ganjaran, makin besar kemungkinan orang melakukan tindakan yang sama. (c) ganjaran atau reward yang bersifat tak terduga (misal : keuntungan pembelian togel) akan memancing perulangan tindakan serupa dibanding reward yang bersifat tetap atau teratur.

2. Proposisi Stimulus atau Rangsangan
“Bila dimasa lampau ada satu atau sejumlah stimulus yang di dalamnya tindakan seseorang memperoleh ganjaran, maka kemungkinan orang tersebut akan melakukan tindakan yang sama pada stimulus yang memiliki kemiripan di masa kini dengan stimulus sebelumnya.”
Homans tertarik pada proses generalisasi. Dalam arti, keberhasilan pada salah satu tindakan mengantar orang tersebut pada tindakan lainnya yang mirip. Keberhasilan seorang artis dalam dunia layar lebar misalnya, tak jarang mendorong pula keinginannya untuk terjun dalam dunia tarik suara.

3. Proposisi Nilai
“Semakin tinggi hasil tindakan bagi seseorang, semakin cenderung ia melakukan tindakan serupa.”
Homans menmperkenalkan 2 konsep, yakni imbalan (sebagai hasil tindakan yang bernikai positif, yang cenderung melahirkan perilaku yang diinginkan) dan hukuman (sebagai hasil tindakan yang bernilai negatif). Homans memandang bahwa hukuman bukan cara yang efektif untuk mengubah tingkah laku seseorang. Ia lebih memilih imbalan dibanding hukuman, namun mungkin saja persediaan imbalan adalah terbatas. Untuk itu, imbalan dapat bersifat material (uang), maupun altruistis (membantu orang lain).

4. Proposisi Kelebihan-Kekurangan
“Semakin sering seseorang mendapat ganjaran pada waktu yang berdekatan, maka semakin kurang bernilai ganjaran itu untuk dia.”
Unsur waktu menjadi amat penting dalam proposisi ini.

5. Proposisi Agresi-Pujian
Dalam bagian ini, terkandung 2 proposisi, yaitu :
Proposisi A, ketika tindakan seseorang tidak mendapat imbalan yang diharapkan, atau menerima hukuman yang tidak ia harapkan, ia akan marah; ia menjadi cenderung berperilaku agresif dan akibat perilaku tersebut menjadi lebih bernilai untuknya.
Proposisi B, ketika tindakan seseorang menerima imbalan yang diharapkannya, khususnya imbalan yang lebih besar dari yang diharapkannya, atau tidak mendapatkan hukumn yang diharapkannya, ia akan senang, ia lebih cenderung berperilaku menyenangkan dan hasil dari tindakan ini lebih bernilai baginya.

6. Proposisi Rasionalitas
Ketika memilih tindakan alternatif, seseorang akan memilih tindakan, sebagaimana dipersepsikannya kala itu, yang jika nilai hasilnya dikalikan probabilitas keberhasilan adalah lebih besar. Imbalan yang bernilai tinggi akan hilang nilainya, bila dianggap cenderung tidak mungkin diperoleh. Pada sisi lain, imbalan bernilai rendah mengalami pertambahan nilai, jika dipandang sangat mungkin untuk diperoleh.

Pada akhirnya, dalam teori Homans, aktor adalah pencari keuntungan. Kendati demikian, sekali lagi proposisi ini diakui ada dalam skala hubungan individu. Homans beranggapan bahwa struktur sosial dalam kehidupan kelompok atau masyarakat yang berskala besar, dapat dipahami dengan memahami perilaku sosial dasar ini. Ritzer juga menyinggung bahwa teori Homans juga begitu lemah nilai berbicara tentang kondisi mental, misalnya yang berkaitan dengan kesadaran.

2. Teori Pertukaran Peter M. Blau
Teori pertukaran Homans sesungguhnya tidak mulai dengan tingkat antar pribadi, melainkan dengan tingkat individu. Homans berpegang pada keharusan menggunakan prinsip-prinsip psikologi individu, untuk menjelaskan perilaku sosial. Blau, di lain pihak berusaha beranjak dari tingkat pertukaran antarpribadi di tingkat mikro, ke struktur sosial yang lebih besar (makro).

Mikro ke Makro :
Pada level individu Blau dan Homans tertarik pada proses serupa. Namun, konsep pertukaran sosial yang dikemukakan Blau, terbatas pada tindakan-tindakan yang tergantung pada reaksi dari orang lain – tindakan yang akan hilang ketika reaksi-reaksi yang diharapkan tindak muncul. Bagi Blau, orang tertarik satu sama lain karena berbagai alasan yang mendorong mereka membangun asosiasi sosial. Saat ikatan awal terbangun, imbalan yang diberikan satu sama lain berfungsi untuk memelihara dan memperkuat ikatan. Imbalan yang dipertukarkan dapat bersifat intrinsik (misalnya cinta, kasih, rasa hormat) atau ekstrinsik (misalnya uang atau kerja fisik). Masing-masing pihak tidak mungkin selalu memberikan imbalan secara setara. Ketika terjadi ketimpangan, perbedaan kekuasaan akan muncul.

Bilamana satu pihak memerlukan sesuatu dari pihak lain namun tidak memiliki sesuatu yang sebanding/setara, tersedia empat alternatif yaitu: Pertama, orang dapat memaksa orang lain membantunya. Kedua, mereka mencari sumber lain untuk mendapatkan apa yang mereka buktikan. Ketiga, mereka terus menjalaninya tanpa sesuatu yang mereka butuhkan dari orang lain. Keempat, mereka meletakkan diri pada posisi lebih rendah dari orang lain sehingga memberikan nilai umum kepada orang lain dalam hubungan yang mereka jalani; selanjutnya orang lain dapat menarik kembali penilaian tersebut ketika mereka ingin melakukan sesuatu (penentuan diletakkan di tangan yang memiliki sumber yang dibutuhkan oleh pihak lain dalam pertukaran, dalam arti ini merupakan ciri esensial dari kekuasaan).

Nilai dan Norma:
Menurut Blau, mekanisme yang memerantarai struktur sosial yang kompleks adalah norma dan nilai (konsesus nilai yang teradapat dalam masyarakat). Nilai dan norma mengatur proses integrasi sosial serta diferensiasi dalam struktur sosial kompleks maupun perkembangan organisasi sosial serta reorganisasi yang terdapat di dalamnya.

Akhirnya, dapat kita sebutkan bahwa Blau mengganti peran individu dengan berbagai jenis fakta sosial, misalnya dengan membahas tentang kelompok, organisasi, kolektivitas, masyarakat, norma dan nilai. Analisisnya memusatkan perhatian pada faktor yang mempersatukan unit-unit sosial pada tingkat skala luas dan faktor yang memisahkan dalam bagian-bagian kecil. Menurut Ritzer, meski Blau bermaksud memperluas teori pertukaran ke tingkat masyarakat, ia justru harus mengakui bahwa proses pertukaran yang terjadi di tingkat kemasyarakatan berbeda secara fundamental dari proses pertukaran di tingkat individual.

3. Teori Pertukaran James Coleman
Coleman menyinggung tulisan Edgeworth (1881), bahwa dalam pertukaran ada yang dinamakan penyesuaian ganda (double coincidence of wants). Dalam arti, bukan hanya A yang mempunyai sesuatu yang dibutuhkan B, tetapi B juga mempunyai sesuatu yang diinginkan A, dan kedua-duanya membutuhkan barang yang dimiliki pihak lain itu lebih dari keinginan mereka untuk barang yang mereka miliki, yang bersedia mereka serahkan melalui pertukaran. Bagi Coleman, syarat penyesuaian ini cukup berat. Uang adalah salah satu sarana yang dapat mengatasi keharusan akan persesuaian kebutuhan ganda ini.

1. Uang
Coleman menjelaskan 3 cara pendefinisian uang, yaitu: uang sebagai simpanan berharga, uang sebagai alat pertukaran dan uang sebagai satuan perhitungan. Uang ini pun dibedakan dalam 3 bentuk, yakni:

1. Uang barang (commodity money) yang mengandung nilainya.
2. Uang fidusier (fiduciary money) yang merupakan janji bayar (promise to pay).
3. Uang fiat (fiat money) yang posisinya di bawah janji itu.

Dengan uang fiat, janji bayar menjadi janji untuk mempertahankan keseimbangan antara pertumbuhan barang dan jasa dengan pertumbuhan persediaan uang. Bagi masyarakat tanpa uang tunai, identitas penerima kepercayaan dan bentuk kepercayaan yang digantikan itu, sama dengan identitas penerima kepercayaan dan bentuk kepercayaan untuk uang fiat.

2. Janji
Coleman meyakini bahwa “janji” juga memiliki peran yang luas dalam sistem sosial maupun sistem politik, terlepas dari perannya dalam dunia ekonomi. Baginya, dalam beberapa keadaan, janji memang dapat diperdagangkan secara minimal. Dalam contoh, sudah lumrah dalam komunitas kita, ucapan berikut, “John berutang pada saya. Katakan kepadanya, saya menyuruhnya membantumu.” Dalam hal ini, tipe pertukaran tersebut terjadi dalam lingkungan yang sangat terbatas.

Selain janji yang dapat dipertukarkan dengan uang, alat yang paling lazim untuk memungkinkan terjadinya transaks-transaksi dalam sistem sosial dan politik adalah janji yang tidak dapat dialihkan.

3. Organisasi Formal yang Produktif
Barangkali alat terpenting dalam sistem sosial dan politik selain uang adalah organisasi formal yang produktif. Misalnya, seorang operator fotocopy di sebuah kantor, harus memperbanyak suatu bahan dan selanjutnya dibagikan kepada para staf kantor tersebut. Para staf kantor yang menerima sesuatu dari pihak operator fotocopy, tidak berhutang dan tidak diharuskan memberikan apa-apa kepada operator tersebut. Operator tersebut, menerima keseimbangan pertukaran ini melalui upah atau gaji dari manajemen kantor. Pada titik inilah, organisasi formal dalam sistem sosial dan politik menjadi penting dalam teori pertukaran.

Penggunaan uang terlibat pula dalam struktur ini, tetapi uang saja tanpa organisasi tidak akan membuat teori pertukaran ini menjadi kompleks. Karena itu, organisasi yang produktif bukanlah pengganti uang, tetapi pelengkap uang.

4. Status Sosial Sebagai Pengganti Uang
Alat lain yang berfungsi menyeimbangkan transaksi dalam sistem sosial dan politik adalah dengan memberikan status atau penunjukkan rasa hormat dari satu pihak terhadap pihak lain. Hasilnya adalah sebuah hierarki status, yang di dalamnya berbagai macam agen diakui karena diberikan status yang sifatnya membedakan (differing status), atau tingkat prestise. Misalnya, seseorang yang hendak meminjam uang pada bangkir. Kekuatan yang ada, sangatlah asimetris. Si peminjam akan berada pada posisi sang pemohon yang rendah hati, dan tergantung pada keputusan bangkir. Dalam pelaksanaannya, si peminjam akan memberikan kepada bangkir slip kredit berupa hak istimewa, bilamana bangkir tersebut akan berkunjung ke toko yang dimiliki si peminjam, bangkir akan selalu di tempatkan pada posisi istimewa dalam hubungan kesehariannya.

Pemberian status yang dapat dilakukan untuk menyeimbangkan transaksi yang tidak seimbang, agaknya dapat menjadi pengganti fungsional untuk uang dalam sistem sosial dan sistem politik. Misalnya : dalam pemerintahan, pemberian status sebagai tokoh pemimpin dapat menjadi penyeimbang dengan tindakan pemenuhan tanggung jawab sebagai pemimpin tersebut. Akan tetapi, status tidak sama dengan uang.

Coleman juga menyebutkan beberapa hal, antara lain:
- Pertukaran penyesuaian ganda dalam kehidupan sosial memang tidak terjadi dalam kekosongan. Pertukaran tersebut terjadi dalam lingkungan ketika sedang berlangsung persaingan memperebutkan sarana-sarana yang dimiliki tiap-tiap pelaku. Ia mengambil sampel bertolak dari sistem pertukaran dalam ruang kelas dan dalam perebutan pasar kerja.
- Dalam menjelaskan tentang pertukaran, Coleman mengambil contoh berupa pertukaran yang terjadi dalam ruang kelas serta pertukaran di pasar tenaga kerja. Baginya, dalam sistem tindakan yang sederhana yang hanya berisi satu proses pertukaran, mengandung 4 konsep yang saling berhubungan : kepentingan dan kontrol, kedua-duanya menetapkan relasi antara seorang pelaku dan sebuah sarana. Kekuatan dan nilai, mencirikan para pelaku dan sarana-sarana itu dalam hubungan dalam hubungan dengan sistem tindakan secara keseluruhan.
- Alat lain yang memudahkan pertukaran dalam sistem sosial dan sistem politik ketika barter 2 pihak tidak mungkin lagi, yakni pihak perantara atau makelar.

4. Karya Richard Emerson dan Muridnya
Emerson dengan dua esai yang ditulisnya tahun 1972, menandai awal tahap baru perkembangan teori pertukaran sosial. Emerson mencoba memperluas teori pertukaran dari analisis level mikro ke level makro, melalui studi struktur jaringan. Hal ini pun diikuti oleh Karen Cook.

Emerson mengulas tiga asumsi inti dari teori pertukaran, yaitu:
1. Orang yang mengambil manfaat dari peristiwa cenderung bertindak “rasional” dan dengan demikian peristiwa tersebut pun bisa terjadi.
2. Karena orang terbiasa dijejali dengan peristiwa-peristiwa behavioral, peristiwa-peristiwa tersebut mulai berkurang manfaatnya.
3. Keuntungan yang diperoleh orang melalui proses sosial, tergantung pada keuntungan yang dapat mereka berikan dalam pertukaran, sehingga memberikan “fokus pada aliran manfaat melalui interaksi sosial” kepada teori pertukaran.

Point Kekuasaan – Ketergantungan
Emerson mendefinisikan kekuasaan satu pihak atas pihak lain dalam hubungan pertukaran adalah fungsi terbalik dari ketergantungannya pada pihak lain. Kekuasaan A atas B sama dengan, dan didasarkan atas ketergantungan B pada A. Terdapat keseimbangan hubungan antara A dengan B, ketika ketergantungan A pada B sama dengan ketergantungan B pada A. Ketika terjadi ketimpangan dalam ketergantungan tersebut, aktor dengan ketergantungan lebih kecil memiliki keunggulan kekuasaan. Emerson selanjutnya mengatakan bahwa kekuasaan bisa berasal dari kemampuan memberikan imbalan dan kemampuan untuk menghukum orang lain. Muridnya, Molm, menganggap bahwa kekuasaan menghukum lebih lemah daripada kekuasaan memberikan imbalan, sebagian karena tindakan menghukum cenderung menimbulkan reaksi negatif. Molm bersama Quist dan Wisely, menganggap bahwa penggunaan menghukum lebih cenderung dipersepsikan adil ketika digunakan oleh mereka yang juga memiliki kekuasaan untuk memberikan imbalan, namun ia cenderung dipersepsikan tidak adil dan dengan demikian disebut sebagai pemaksa yang lemah ketika masing-masing pihak mengharapkan adanya imbalan.

Teori Pertukaran Yang Lebih Integratif
Cook, O’Brien dan Kollock mendefinisikan teori ini sebagai teori yang membahas pertukaran pada berbagai level analisis, baik pertukaran antar individu, perusahaan maupun negara dan bangsa. Dalam level mikro, dipusatkan perhatian pada perilaku sosial sebagai pertukaran. Dalam level makro, struktur sosiallah yang diamati sebagai pertukaran.

Cook, O’Brien dan Kollock mengidentifikasi tiga kecenderungan yang mengarah pada teori pertukaran yang lebih integratif, yaitu:
1. Semakin meningkatnya penggunaan bidang penelitian yang memperhatikan isu makro, yang melengkapi penggunaan eksperimen tradisional untuk mempelajari isu mikro.
2. Mereka mencatat menjauhnya karya substantif dari fokus diadik dan mengarah pada jaringan pertukaran yang lebih besar.
3. Adanya upaya terus menerus untuk menyintesiskan teori pertukaran dengan sosiologi struktural, khususnya teori jaringan.

Ketiga tokoh ini juga mendiskusikan manfaat yang dapat diperoleh dari integrasi pandangan dari berbagai teori mikro lain. Interaksionisme simbolis misalnya, menawarkan pengetahuan tentang bagaimana aktor mengomunikasikan keinginan mereka satu sama lain, dan hal ini penting dalam tumbuhnya kepercayaan serta komitmen dalam hubungan pertukaran. Dengan demikian teori pertukaran dapat disebutkan sebagai salah satu orientasi teoritis dalam ilmu sosial yang secara terang-terangan mengonseptualisasikan aktor yang berkehendak dalam kaitannya dengan struktur.

Pada tahun-tahun terakhir ini, teori pertukaran mulai bergerak beberapa arah yang lebih baru, yakni:
1. Makin meningkatnya perhatian pada resiko dan ketidakpastian dalam hubungan pertukaran. Misalnya, seorang aktor dapat memberi sesuatu yang bernilai pada orang lain tanpa menerima kembali apapun yang bernilai.
2. Minat pada resiko membawa pada perhatian terhadap kepercayaan dalam hubungan pertukaran.
3. Terdapat isu yang terkait dengan aktor yang mengurangi resiko dan meningkatkan kepercayaan dengan mengembangkan seperangkat komitmen timbal balik satu sama lain (berhubungan dengan yang ke 4)
4. Meningkatnya perhatian pada kepedulian dan emosi dalam teori yang didominasi oleh faktor pada aktor yang memiliki kepentingan diri.
5. Saat banyak teori pertukaran memusatkan perhatian pada struktur, terjadi pula peningkatan minat dalam menguraikan tabiat dan peran aktor.
6. Arah baru yang paling banyak menyedot perhatian pada tahun-tahun terakhir ini adalah integrasi teori pertukaran dan teori jaringan.

Teori Jaringan
Hubungannya dengan teori pertukaran, teori jaringan memiliki kekuatan dalam model struktural (jaringan hubungan), sementara teori pertukaran memiliki kekuatan dalam model hubungan antar aktor (pertukaran), namun memiliki kelemahan dalam model struktur sosial tempat mereka bekerja.

Sasaran perhatian utama dari teori jaringan ialah pola objektif ikatan yang menghubungkan anggota masyarakat (indvidual dan kolektivitas). Satu ciri khas teori jaringan adalah pemusatan perhatiannya pada struktur mikro hingga makro. Dalam arti, aktor mungkin saja individu, tetapi mungkin pula kelompok, perusahaan dan masyarakat. Hubungan ini berlandaskan gagasan bahwa setiap aktor (individu dan kolektivitas) mempunyai akses berbeda terhadap sumber daya yang benilai (kekayaan, kekuasaan, informasi). Akibatnya adalah bahwa sistem yang terstruktur cenderung terstratifikasi, komponen tertentu tergantung pada komponen yang lain.

Satu aspek penting analisis jaringan, yakni menjauhkan sosiolog dari studi tentang kelompok dan kategori sosial, serta diarahkan untuk mempelajari ikatan di kalangan antaraktor yang “tak terikat secara kuat dan tak sepenuhnya memenuhi persyaratan kelompok”. Contoh yang baik dari ikatan ini ialah diungkap dalam karya Granoveter tentang “ikatan yang kuat dan lemah.” Sosisolog cenderung memusatkan perhatian pada orang yang mempunyai ikatan yang kuat atau kelompok sosial dan menganggap itu lebih penting untuk dijadikan sasaran studi sosiologi. Inilah yang ditolak oleh Granoveter yang menjelaskan dalam karya terbaiknya tentang “kekuatan ikatan lemah”. Ikatan kuat misalnya, kaitan antara teman-teman dekat atau komunitas kita sendiri. Sedangkan ikatan lemah adalah kaitan antara orang dengan kenalan yang baru ditemui. Granoveter menganggap bahwa orang jangan terjebak untuk hanya mengamati ikatan yang kuat tetapi juga melihat ikatan yang lemah sebagai sarana untuk membuka terisolasinya ikatan kuat dan kelompoknya sendiri-sendiri. Hal ini pun mendorong pada terintegrasinya individu dan komunitas secara lebih baik ke dalam masyarakat yang lebih besar.

Beberapa prinsip teori-teori jaringan, yakni:
1. Ikatan antar-aktor biasanya bersifat simetris, baik isi maupun intensitasnya (aktor saling memberi hal berbeda, dan mereka melakukannya dengan kurang lebih intens)
2. Ikatan antarindividu harus dianalisis dalam konteks struktur dan jaringan yang lebih besar.
3. Perstrukturan ikatan sosial mengarah kepada berbagai jaringan yang tidak acak.
4. Keberadaan kelompok mengarah pada fakta bahwa mungkin saja terdapat kaitan silang antar kelompok maupun antar individu.
5. Terdapat ikatan asimetris antar elemen dalam suatu sistem yang akibatnya adalah sumber daya yang berlainan terdistribusikan secara berlainan.
6. Ketimpangan distribusi sumber daya yang langka melahirkan kolaborasi dan kompetisi.

Teori Pertukaran Jaringan
Teori ini berusaha mengombinasikan teori pertukaran sosial dan analisis jaringan. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa teori jaringan mempunyai model struktur yang kuat (jaringan relasi) tetapi mempunyai model yang lemah mengenai unsur relasi. Pada sisi lain, teori pertukaran memiliki model relasi antaraktor yang kuat (pertukaran) tetapi memiliki model struktur yang lemah. Model teori pertukaran sosial dari pertukaran aktor untuk memperbesar keuntungan akan melengkapi isi yang kurang dari analisis jaringan, dan analisis jaringan menyediakan model struktur sosial sebagai variabel independen yang kurang dimiliki oleh teori pertukaran.

Landasan mendasar di balik teori pertukaran jaringan adalah bahwa teori pertukaran sosial, terjadi dalam konteks jaringan pertukaran sosial yang lebih besar. Sebagaimana teori pertukaran sosial, teori pertukaran jaringan terutama menitikberatkan pada isu kekuasaan. Premis dasarnya ialah bahwa semakin besar peluang aktor untuk melakukan pertukaran, semakin besar kekuasaan si aktor. Diasumsikan bahwa peluang bagi pertukaran ini secara langsung terkait dengan struktur jaringan. Akibat dari posisi mereka dalam jaringan, aktor memiliki beragam peluang untuk mempertukarkan keuntungan serta kemampuan mereka untuk mengendalikan dan mengakumulasikan keuntungan tersebut.

Para teorotisi pertukaran jaringan hanya tertarik pada hubungan pertukaran, sementara para teoritisi jaringan tertarik pada berbagai jenis hubungan. Sebagai contoh, sebagian besar studi jaringan memusatkan perhatiannya pada sentralitas. Ini bisa berarti keuntungan yang dikaitkan dengan bermacam-macam orang. Menurut teoritisi pertukaran jaringan tidak cukup hanya dengan “terhubung”; hubungan haruslah merupakan hubungan pertukaran.

Teori Pilihan Rasional
Tahun 1989 Coleman menerbitkandirikan jurnal Rationality and Society yang bertujuan menyebarkan pemikiran yang berasal dari perspektif pilihan rasional. Pendekatannya mulai beroperasi tingkat mikro, untuk menjelaskan fenomena tingkat makro, dengan menggunakan teori pilihan rasional sebagai landasan.

Menurut Coleman sosiologi seharusnya memusatkan perhatian kepada sistem sosial. Akan tetapi, fenomena makro itu harus dijelaskan oleh faktor internalnya sendiri, dengan individu sebagai prototipenya. Salah satu alasannya ialah perhatian di tingkat individual, biasanya dikarenakan “intervensi” yang dilakukan untuk menciptakan perubahan sosial.

Gagasan dasarnya ialah “tindakan perseorangan mengarah kepada sesuatu tujuan dan tujuan itu (dan juga tindakan) ditentukan oleh nilai atau pilihan (preferensi). Selanjutnya, ia pun berargumen bahwa untuk sebagian besar tujuan teoritis, dihubungkan juga dengan ekonomi, yakni aktor akan memaksimalkan keuntungan atau pemuasan kebutuhan dan keinginannya.

Ada dua unsur utama dalam teori Coleman, yakni aktor dan sumber daya. Sumber daya adalah sesuatu yang menarik perhatian dan yang dapat dikontrol oleh aktor. Pemusatan perhatiannya pada tindakan rasional individu ini, dilanjutkannya dengan memusatkan perhatian pada masalah hubungan mikro-makro atau bagaimana cara gabungan tindakan individual menimbulkan perilaku sistem sosial. Akhirnya, ia memusatkan perhatian pada aspek hubungan mikro-mikro atau dampak tindakan individual terhadap tindakan individu lain.

Ada tiga kelemahan pendekatan Coleman. Pertama, ia memberikan prioritas perhatian yang berlebihan terhadap masalah hubungan mikro dengan makro dan dengan demikian memberikan sedikit perhatian terhadap hubungan lain. Kedua, ia mengabaikan masalah hubungan makro-makro. Ketiga, hubungan sebab akibatnya hanya menunjuk pada satu arah. Dengan kata lain ia mengabaikan hubungan dialektika di kalangan dan di antara fenomena mikro dan makro.

Perilaku Kolektif
Satu contoh pendekatan Coleman dalam menganalisis fenomena makro adalah kasus perilaku kolektif. Ia memilih menjelaskan perilaku kolektif karena cirinya yang sering tak stabil dan kacau itu sukar dianalisis berdasarkan perspektif pilihan rasional. Pandangannya, teori pilihan rasioanal dapat menjelaskan semua jenis fenomena makro, tak hanya yang teratur dan stabil saja. Ia menyatakan bahwa dalam perilaku kolektif orang dapat memberikan kontrol tindakan dirinya kepada orang lain. Alasannya dapat dikarenakan pilihan rasional, yakni memaksimalkan keuntungan. Dalam hal ini, dilibatkan penyeimbangan kontrol antara beberapa aktor dan menimbulkan keseimbangan.

Norma
Fenomena tingkat makro lain yang menjadi sasaran penelitian Coleman adalah norma. Menurutnya, norma diprakarsai dan dipertahankan oleh beberapa orang yang melihat keuntungan yang dihasilkan dari pengalaman terhadap norma dan kerugian yang berasal dari pelanggaran norma itu. Coleman meringkasnya demikian, norma “melepaskan sebagian hal untuk mengendalikan tindakan diri sendiri seseorang dan menerima sebagian hak untuk mengendalikan tindakan orang lain dan itulah yang memunculkan norma. Hasil akhirnya ialah bahwa pengendalian, yang dipertahankan setiap orang yang sendirian akan terdistribusikan secara luas ke seluruh kumpulan aktor yang melaksanakan kontrol itu”. Aktor dilihat berusaha memaksimalkan utilitas mereka sebagian dengan menggerakkan hak untuk mengendalikan diri mereka sendiri dan memperoleh sebagian hak untuk mengendalikan aktor lain. Karena pemindahan pengendalian itu terjadi secara sepihak, maka dalam kasus norma ini terdapat keseimbangan. Akhirnya, aktor tidak boleh bertindak menurut kepentingan pribadi mereka, tetapi harus bertindak menurut kepentingan kolektivitas.

Sebagai teoritisi pilihan rasinal, Coleman bertolak dari individu dan dari gagasan bahwa semua hak dan sumber daya ada ditingkat individual ini. Kepentingan individu menentukan jalannya peristiwa. Namun, ini tidak cocok terutama dalam masyarakat modern di mana bagian terbesar hak dan sumber daya dan karena itu kedaulatan terletak ditangan aktor kolektif (aktor kolektif dapat bertindak demi keuntungan atau kerugian individu).

Bagaimana cara menilai aktor kolektif? Coleman mengatakan “hanya dengan bertolak secara konseptual dari titik di mana semua kedaulatan terletak di tangan manusia individulah terbuka peluang untuk melihat seberapa baiknya kepentingan utama mereka disadari oleh sistem sosial yang ada. Dalil yang menyatakan bahwa manusia individu berdaulat telah membukankan jalan bagi sosiolog untuk menilai pelaksanaan fungsi sistem sosial.”

Menurut Coleman, pengaruh sosial penting adalah munculnya aktor korporat, sebagai pelengkap aktor “pribadi natural”. Keduanya dapat dianggap sebagai aktor karena keduanya mempunyai “pengendalian terhadap sumber daya dan peristiwa, kepentingan terhdap sumber dayadan peristiwa, dan mempunyai kemampuan mengambil tindakan untuk mencapai kepentingan mereka melalui pengendalian itu.”

Pada akhirnya, teori Coleman ini pun menuai banyak kritik yang mengatakannya terlalu ambisius, karena berusaha menggantikan semua perspektif lain. Ia pun gagal menjawab pertanyaan mengenai bagaimana suatu mayarakat dapat terbentuk. Dalam ideal rasionalitas ini pun, tidak cocok dengan kehidupan sehari-hari dan norma rasionalitas serta emosionalitas, yang mengorganisasi aktivitas-aktivitas aktual individu yang tengah berinteraksi.

Hubungan pertukaran yang hidup dalam masyarakat (disadari maupun tidak), sebenarnya sebagai sebuah teori, berlangsung dalam rentang yang panjang. Di dalamnya terhubung dengan sejumlah, teori baik pilihan rasional, maupun teori jaringan yang juga berkembang menjadi teori pertukaran jaringan. Kesemua teori ini, berusaha untuk memaparkan bagaimana keberlangsungan pertukaran itu sendiri dalam masyarakat, yang juga mempengaruhi terbentuknya masyarakat bersangkutan. Masing-masing teori berusaha dilengkapi untuk mampu menjelaskan fenomena masyarakat yang semakin kompleks.
 
Paradigma perilaku sosial memusatkan perhatiannya kepada antar hubungan antara individu dan lingkungannya yang terdiri atas bermacam-macam obyek sosial dan non sosial yang menghasilkan akibat-akibat atau perubahan dalam faktor lingkungan yang menimbulkan perubahan terhadap tingkah laku.

Teori yang tergabung adalah Teori Behavioral Sociology dan Teori Exchange. Tokoh aliran ini antara lain : BF Skinner dan George Homans.

Metode penelitian empiris yang digunakan cenderung ke arah metode kuesioner, interview dan observasi. Variabel penelitian lebih ke Individual.

Fokus utama paradigma ini pada hadiah atau penguatan (rewards) yang menimbulkan perilaku yang diinginkan dan hukuman (punishment) yang mencegah perilaku yang tak diinginkan

Paradigma fakta sosial dan definisi sosial sebagai perspektif yang bersifat mistik, dalam arti mengandung sesuatu persoalan yang bersifat teka-teki, tidak dapat diterangkan secara rasional.

Paradigma fakta sosial dinilai mengandung ide yang bersifat tradisional khususnya mengenai nilai-nilai sosial, Alasannya karena orang tidak dapat melihat secara nyata ide dan nilai-nilai dalam mempelajari masyarakat. Paradigma Perilaku sosial mampu menerangkan dan memberikan penjelasan secara lebih nyata (tampak).

Bagi paradigma perilaku sosial, individu kurang sekali memiliki kebebasan. Tanggapan yang diberikannya ditentukan oleh sifat dasar stimulus yang datang dari luar dirinya. Jadi tingkah laku manusia lebih bersifat mekanik.

1. TEORI PERILAKU SOSIAL

Teori ini dikembangkan oleh Burrhus Frederic Skinner yang lahir 20 Maret 1904, di kota kecil Pennsylvania Susquehanna. Skinner mengadakan pendekatan behavioristik untuk menerangkan tingkah laku. Pada tahun 1938, Skinner menerbitkan bukunya yang berjudul The Behavior of Organism. Teori Perilaku Sosial biasa juga disebut Teori belajar dalam Ilmu Psikologi. Konsep dasar dari teori ini adalah penguat / ganjaran (reward). Teori ini lebih menitikberatkan pada tingkah laku aktor dan lingkungan.

Bagi Skinner, respon muncul karena adanya penguatan. Ketika dia mengeluarkan respon tertentu pada kondisi tertentu, maka ketika ada penguatan atas hal itu, dia akan cenderung mengulangi respon tersebut hingga akhirnya dia berespon pada situasi yang lebih luas. Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus respon akan semakin kuat bila diberi penguatan. Skinner membagi penguatan ini menjadi dua yaitu penguatan positif dan penguatan negatif. Penguatan tersebut akan berlangsung stabil dan menghasilkan perilaku yang menetap.

Asumsi Dasar

1. Behavior is lawful (perilaku memiliki hukum tertentu)
2. Behavior can be predicted (perilaku dapat diramalkan)
3. Behavior can be controlled (perilaku dapat dikontrol)

Berdasarkan asumsi dasar tersebut menurut Skinner (J.W. Santrock, 272) unsur yang terpenting dalam belajar adalah adanya penguatan (reinforcement ) dan hukuman (punishment).

- Penguatan dan Hukuman. Penguatan (reinforcement) adalah konsekuensi yang meningkatkan probabilitas bahwa suatu perilaku akan terjadi. Sebaliknya, hukuman (punishment) adalah konsekuensi yang menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku.

Penguatan boleh jadi kompleks. Penguatan berarti memperkuat. Skinner membagi penguatan ini menjadi dua bagian:

- Penguatan positif adalah penguatan berdasarkan prinsif bahwa frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan stimulus yang mendukung (rewarding). Bentuk-bentuk penguatan positif adalah berupa hadiah (permen, kado, makanan, dll), perilaku (senyum, menganggukkan kepala untuk menyetujui, bertepuk tangan, mengacungkan jempol), atau penghargaan (nilai A, Juara 1 dsb).

- Penguatan negatif adalah penguatan berdasarkan prinsif bahwa frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang merugikan (tidak menyenangkan). Bentuk-bentuk penguatan negatif antara lain: menunda/tidak memberi penghargaan, memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang (menggeleng, kening berkerut, muka kecewa dll).

Tipe Perilaku

Skinner mengajukan dua klasifikasi dasar dari perilaku: operants dan respondents. Operant adalah sesuatu yang dihasilkan, dalam arti organisme melakukan sesuatu untuk menghilangkan stimulus yang mendorong langsung. Contohnya, seekor tikus lari keluar dari labirin, atau seseorang yang keluar dari pintu. Respondent adalah sesuatu yang dimunculkan, dimana organisme menghasilkan sebuah respondent sebagai hasil langsung dari stimulus spesifik. Contohnya, seekor anjing yang mengeluarkan air liur ketika melihat dan mencium bau makanan, atau seseorang yang mengedip ketika udara ditiupkan ke matanya.

Hal ini didasari pada asumsi-asumsi berikut:

1. Belajar itu adalah tingkah laku.
2. Perubahan tingkah-laku (belajar) secara fungsional berkaitan dengan adanya perubahan dalam kejadian-kejadian di lingkungan kondisi-kondisi lingkungan.
3. Hubungan yang berhukum antara tingkah-laku dan lingkungan hanya dapat di tentukan kalau sifat-sifat tingkah-laku dan kondisi eksperimennya di definisikan menurut fisiknya dan di observasi di bawah kondisi-kondisi yang di kontrol secara seksama.
4. Data dari studi eksperimental tingkah-laku merupakan satu-satunya sumber informasi yang dapat di terima tentang penyebab terjadinya tingkah laku.

Dalam berbicara mengenai perilaku sosial, Skinner tidak membahas mengenai personality traits atau karakteristik yang dimiliki seseorang. Bagi Skinner, deskripsi kepribadian direduksi dalam kelompok atau respon spesifik yang cenderung diasosiasikan dalam situasi tertentu.

2. TEORI PERTUKARAN SOSIAL

Tokoh utamanya George Homans. Teori ini dibangun sebagai reaksi terhadap paradigma fakta sosial, terutama menyerang ide Durkheim secara langsung dari tiga (3) jurusan.

1. Pandangan tentang emergence.

Homans mengakui bahwa selama berlangsungnya proses interaksi, timbul suatu fenomena baru. Menurutnya untuk menerangkan fenomena yang timbul dari proses interaksi tidak diperlukan proposisi baru lagi.

1. Pandangan tentang psikologi

Sosiologi pada akhir abad 19 masih merupakan anak angkat psikologi. Sosiologi dewasa ini sudah berdiri sendiri.

2. Metode penjelasan dari Durkheim.

Menurut Durkheim obyek studi sosiologi adalah barang sesuatu yang hanya dapat diterangkan bila dapat ditemukan faktor-faktor penyebabnya. Menurut Homans fakta-fakta sosial tertentu yang selalu menjadi penyebab dari fakta sosial yang lain belum merupakan suatu penjelasan.

Yang perlu dijelaskan adalah hubungan antara penyebab dan akibat dari hubungan itu selalu diterangkan oleh proposisi psikologi. Keterangannya mestilah bersifat psikologi, artinya harus diterangkan melalui pendekatan perilaku (behavioral). Menurut Homans variabel-variabel psikologi selalu menjadi variabel perantara (intervening variables) diantara dua fakta sosial

Homans, mengajukan tiga konsep yang berbeda untuk menjelaskan pertukaran sosial, yaitu:

1. Aktivitas, sebagai perilaku aktual yang digambarkan secara konkrit.

2. Interaksi, sebagai kegiatan yang mendorong atau didorong oleh kegiatan orang lain.

3. Sentimen, sebagai kegiatan yang dilakukan atas prakiraan subyektif dan akal sehat individu.

Seperti halnya teori pembelajaran sosial, teori pertukaran sosial pun melihat antara perilaku dengan lingkungan terdapat hubungan yang saling mempengaruhi (reciprocal). Karena lingkungan kita umumnya terdiri atas orang-orang lain, maka kita dan orang-orang lain tersebut dipandang mempunyai perilaku yang saling mempengaruhi.

Dalam hubungan tersebut terdapat 3 unsur:

- Imbalan (reward). Imbalan merupakan segala hal yang diperloleh melalui adanya pengorbanan.

- Pengorbanan (cost). Pengorbanan merupakan semua hal yang dihindarkan.

- Keuntungan (profit). Keuntungan adalah imbalan dikurangi oleh pengorbanan.

Jadi perilaku sosial terdiri atas pertukaran paling sedikit antar dua orang berdasarkan perhitungan untung-rugi. Misalnya,pola-pola perilaku di tempat kerja, percintaan, perkawinan, persahabatan – hanya akan langgeng manakala kalau semua pihak yang terlibat merasa teruntungkan. Jadi perilakuseseorang dimunculkan karena berdasarkan perhitungannya, akan menguntungkan bagi dirinya, demikian pula sebaliknya jika merugikan maka perilaku tersebut tidak ditampilkan.

Menurut Homans, teori ini “membayangkan perilaku sosial sebagai pertukaran aktivitas, nyata atau tak nyata, dan kurang lebih sebagai pertukaran hadiah atau biaya, sekurang-kurangnya antara dua orang. Dalam Social behaviour: Its Elementary Forms, Homans menyatakan bahwa teori pertukarannya berasal dari psikologi perilaku dan ilmu ekonomi dasar (teori pilihan rasional). Sebenarnya Homans menyesal menamakan teorinya “teori pertukaran” karena ia melihatnya sebagai penerapan psikologi perilaku pada situasi khusus.

Bentuk pertukaran sosial (5 proposisi)

1. Proposisi keberhasilan.

Jika tindakannya sering mendapatkan ganjaran, maka akan semakin sering dilakukan.

2. Proposisi stimulus.

Jika stimulus merupakan kondisi dimana seseorang mendapatkan ganjaran, maka semakin besar kemungkinan mengulangi seperti pada waktu lalu.

3. Proposisi nilai.

Semakin bermanfaat maka akan semakin sering kemungkinan tindakan tersebut diulangi.

4. Proposisi kejenuhan kerugian.

Semakin sering seseorang mendapatkan ganjaran yang isitimewa, maka bagian yang lebih mendalam dari ganjaran tsb mejadi kurang bermakna bagi orang lain.

5. Proposisi persetujuan dan perlawanan.

Jika tidak mendapat ganjaran atau hukuman yang tidak diharapkan, ia akan marah dan semakin besar kemungkinan orang tsb akan melakukan perlawanan dan hasil tingkah lakunya makin berharga bagi dirinya. Jika dapat ganjaran atau lebih, maka akan menunjukan tingkah laku persetujuan. Dan hasil tingkah lakunya semakin berharga baginya.
 
Asumsi dasar paradigma perilaku sosial
Paradigma perilaku sosial memusatkan perhatiannya kepada antar hubungan antara individu dan lingkungannya yang terdiri atas bermacam-macam obyek sosial dan non sosial yang menghasilkan akibat-akibat atau perubahan dalam faktor lingkungan yang menimbulkan perubahan terhadap tingkah laku.

Teori yang tergabung adalah Teori Behavioral Sociology dan Teori Exchange. Tokoh aliran ini antara lain : BF Skinner dan George Homans.

Metode penelitian empiris yang digunakan cenderung ke arah metode kuesioner, interview dan observasi. Variabel penelitian lebih ke Individual.

Fokus utama paradigma ini pada hadiah atau penguatan (rewards) yang menimbulkan perilaku yang diinginkan dan hukuman (punishment) yang mencegah perilaku yang tak diinginkan

Paradigma fakta sosial dan definisi sosial sebagai perspektif yang bersifat mistik, dalam arti mengandung sesuatu persoalan yang bersifat teka-teki, tidak dapat diterangkan secara rasional.

Paradigma fakta sosial dinilai mengandung ide yang bersifat tradisional khususnya mengenai nilai-nilai sosial, Alasannya karena orang tidak dapat melihat secara nyata ide dan nilai-nilai dalam mempelajari masyarakat. Paradigma Perilaku sosial mampu menerangkan dan memberikan penjelasan secara lebih nyata (tampak).

Bagi paradigma perilaku sosial, individu kurang sekali memiliki kebebasan. Tanggapan yang diberikannya ditentukan oleh sifat dasar stimulus yang datang dari luar dirinya. Jadi tingkah laku manusia lebih bersifat mekanik.

1. TEORI PERILAKU SOSIAL

Teori ini dikembangkan oleh Burrhus Frederic Skinner yang lahir 20 Maret 1904, di kota kecil Pennsylvania Susquehanna. Skinner mengadakan pendekatan behavioristik untuk menerangkan tingkah laku. Pada tahun 1938, Skinner menerbitkan bukunya yang berjudul The Behavior of Organism. Teori Perilaku Sosial biasa juga disebut Teori belajar dalam Ilmu Psikologi. Konsep dasar dari teori ini adalah penguat / ganjaran (reward). Teori ini lebih menitikberatkan pada tingkah laku aktor dan lingkungan.

Bagi Skinner, respon muncul karena adanya penguatan. Ketika dia mengeluarkan respon tertentu pada kondisi tertentu, maka ketika ada penguatan atas hal itu, dia akan cenderung mengulangi respon tersebut hingga akhirnya dia berespon pada situasi yang lebih luas. Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus respon akan semakin kuat bila diberi penguatan. Skinner membagi penguatan ini menjadi dua yaitu penguatan positif dan penguatan negatif. Penguatan tersebut akan berlangsung stabil dan menghasilkan perilaku yang menetap.

Asumsi Dasar

1. Behavior is lawful (perilaku memiliki hukum tertentu)
2. Behavior can be predicted (perilaku dapat diramalkan)
3. Behavior can be controlled (perilaku dapat dikontrol)

Berdasarkan asumsi dasar tersebut menurut Skinner (J.W. Santrock, 272) unsur yang terpenting dalam belajar adalah adanya penguatan (reinforcement ) dan hukuman (punishment).

- Penguatan dan Hukuman. Penguatan (reinforcement) adalah konsekuensi yang meningkatkan probabilitas bahwa suatu perilaku akan terjadi. Sebaliknya, hukuman (punishment) adalah konsekuensi yang menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku.

Penguatan boleh jadi kompleks. Penguatan berarti memperkuat. Skinner membagi penguatan ini menjadi dua bagian:

- Penguatan positif adalah penguatan berdasarkan prinsif bahwa frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan stimulus yang mendukung (rewarding). Bentuk-bentuk penguatan positif adalah berupa hadiah (permen, kado, makanan, dll), perilaku (senyum, menganggukkan kepala untuk menyetujui, bertepuk tangan, mengacungkan jempol), atau penghargaan (nilai A, Juara 1 dsb).

- Penguatan negatif adalah penguatan berdasarkan prinsif bahwa frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang merugikan (tidak menyenangkan). Bentuk-bentuk penguatan negatif antara lain: menunda/tidak memberi penghargaan, memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang (menggeleng, kening berkerut, muka kecewa dll).

Tipe Perilaku

Skinner mengajukan dua klasifikasi dasar dari perilaku: operants dan respondents. Operant adalah sesuatu yang dihasilkan, dalam arti organisme melakukan sesuatu untuk menghilangkan stimulus yang mendorong langsung. Contohnya, seekor tikus lari keluar dari labirin, atau seseorang yang keluar dari pintu. Respondent adalah sesuatu yang dimunculkan, dimana organisme menghasilkan sebuah respondent sebagai hasil langsung dari stimulus spesifik. Contohnya, seekor anjing yang mengeluarkan air liur ketika melihat dan mencium bau makanan, atau seseorang yang mengedip ketika udara ditiupkan ke matanya.

Hal ini didasari pada asumsi-asumsi berikut:

1. Belajar itu adalah tingkah laku.
2. Perubahan tingkah-laku (belajar) secara fungsional berkaitan dengan adanya perubahan dalam kejadian-kejadian di lingkungan kondisi-kondisi lingkungan.
3. Hubungan yang berhukum antara tingkah-laku dan lingkungan hanya dapat di tentukan kalau sifat-sifat tingkah-laku dan kondisi eksperimennya di definisikan menurut fisiknya dan di observasi di bawah kondisi-kondisi yang di kontrol secara seksama.
4. Data dari studi eksperimental tingkah-laku merupakan satu-satunya sumber informasi yang dapat di terima tentang penyebab terjadinya tingkah laku.

Dalam berbicara mengenai perilaku sosial, Skinner tidak membahas mengenai personality traits atau karakteristik yang dimiliki seseorang. Bagi Skinner, deskripsi kepribadian direduksi dalam kelompok atau respon spesifik yang cenderung diasosiasikan dalam situasi tertentu.

2. TEORI PERTUKARAN SOSIAL

Tokoh utamanya George Homans. Teori ini dibangun sebagai reaksi terhadap paradigma fakta sosial, terutama menyerang ide Durkheim secara langsung dari tiga (3) jurusan.

1. Pandangan tentang emergence.

Homans mengakui bahwa selama berlangsungnya proses interaksi, timbul suatu fenomena baru. Menurutnya untuk menerangkan fenomena yang timbul dari proses interaksi tidak diperlukan proposisi baru lagi.

1. Pandangan tentang psikologi

Sosiologi pada akhir abad 19 masih merupakan anak angkat psikologi. Sosiologi dewasa ini sudah berdiri sendiri.

2. Metode penjelasan dari Durkheim.

Menurut Durkheim obyek studi sosiologi adalah barang sesuatu yang hanya dapat diterangkan bila dapat ditemukan faktor-faktor penyebabnya. Menurut Homans fakta-fakta sosial tertentu yang selalu menjadi penyebab dari fakta sosial yang lain belum merupakan suatu penjelasan.

Yang perlu dijelaskan adalah hubungan antara penyebab dan akibat dari hubungan itu selalu diterangkan oleh proposisi psikologi. Keterangannya mestilah bersifat psikologi, artinya harus diterangkan melalui pendekatan perilaku (behavioral). Menurut Homans variabel-variabel psikologi selalu menjadi variabel perantara (intervening variables) diantara dua fakta sosial

Homans, mengajukan tiga konsep yang berbeda untuk menjelaskan pertukaran sosial, yaitu:

1. Aktivitas, sebagai perilaku aktual yang digambarkan secara konkrit.

2. Interaksi, sebagai kegiatan yang mendorong atau didorong oleh kegiatan orang lain.

3. Sentimen, sebagai kegiatan yang dilakukan atas prakiraan subyektif dan akal sehat individu.

Seperti halnya teori pembelajaran sosial, teori pertukaran sosial pun melihat antara perilaku dengan lingkungan terdapat hubungan yang saling mempengaruhi (reciprocal). Karena lingkungan kita umumnya terdiri atas orang-orang lain, maka kita dan orang-orang lain tersebut dipandang mempunyai perilaku yang saling mempengaruhi.

Dalam hubungan tersebut terdapat 3 unsur:

- Imbalan (reward). Imbalan merupakan segala hal yang diperloleh melalui adanya pengorbanan.

- Pengorbanan (cost). Pengorbanan merupakan semua hal yang dihindarkan.

- Keuntungan (profit). Keuntungan adalah imbalan dikurangi oleh pengorbanan.

Jadi perilaku sosial terdiri atas pertukaran paling sedikit antar dua orang berdasarkan perhitungan untung-rugi. Misalnya,pola-pola perilaku di tempat kerja, percintaan, perkawinan, persahabatan – hanya akan langgeng manakala kalau semua pihak yang terlibat merasa teruntungkan. Jadi perilakuseseorang dimunculkan karena berdasarkan perhitungannya, akan menguntungkan bagi dirinya, demikian pula sebaliknya jika merugikan maka perilaku tersebut tidak ditampilkan.

Menurut Homans, teori ini “membayangkan perilaku sosial sebagai pertukaran aktivitas, nyata atau tak nyata, dan kurang lebih sebagai pertukaran hadiah atau biaya, sekurang-kurangnya antara dua orang. Dalam Social behaviour: Its Elementary Forms, Homans menyatakan bahwa teori pertukarannya berasal dari psikologi perilaku dan ilmu ekonomi dasar (teori pilihan rasional). Sebenarnya Homans menyesal menamakan teorinya “teori pertukaran” karena ia melihatnya sebagai penerapan psikologi perilaku pada situasi khusus.

Bentuk pertukaran sosial (5 proposisi)

1. Proposisi keberhasilan.

Jika tindakannya sering mendapatkan ganjaran, maka akan semakin sering dilakukan.

2. Proposisi stimulus.

Jika stimulus merupakan kondisi dimana seseorang mendapatkan ganjaran, maka semakin besar kemungkinan mengulangi seperti pada waktu lalu.

3. Proposisi nilai.

Semakin bermanfaat maka akan semakin sering kemungkinan tindakan tersebut diulangi.

4. Proposisi kejenuhan kerugian.

Semakin sering seseorang mendapatkan ganjaran yang isitimewa, maka bagian yang lebih mendalam dari ganjaran tsb mejadi kurang bermakna bagi orang lain.

5. Proposisi persetujuan dan perlawanan.

Jika tidak mendapat ganjaran atau hukuman yang tidak diharapkan, ia akan marah dan semakin besar kemungkinan orang tsb akan melakukan perlawanan dan hasil tingkah lakunya makin berharga bagi dirinya. Jika dapat ganj